Festival Lima Gunung (FLG) XXV – kembali menjadi ruang pertemuan para seniman, petani, dan masyarakat untuk merayakan seni, budaya, serta kehidupan di lereng pegunungan Magelang. Memasuki usia ke-25 tahun, festival yang di gelar di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, berlangsung selama tiga hari, mulai 10 hingga 12 Juli 2026.

Perayaan tahun ini menghadirkan beragam pertunjukan seni tradisional maupun kontemporer. Sekaligus menjadi bukti bahwa sebuah festival budaya mampu bertahan selama puluhan tahun tanpa bergantung pada sponsor ataupun pendanaan dari pihak luar. Seluruh rangkaian acara terselenggara berkat semangat gotong royong dan komitmen para anggota Komunitas Lima Gunung bersama masyarakat setempat.

Kirab Budaya Menjadi Pembuka Perayaan Festival

Salah satu agenda yang paling menyita perhatian pengunjung adalah kirab budaya yang di gelar pada hari terakhir festival. Prosesi di mulai dari kawasan perempatan jalan kampung di Dusun Warangan sebelum berakhir di panggung utama Festival Lima Gunung.

Di bagian terdepan kirab, masyarakat membawa sebuah gunungan hasil bumi yang tampil berbeda di bandingkan tradisi pada umumnya. Gunungan tersebut sengaja di susun secara sederhana dan tidak di penuhi berbagai hasil panen seperti biasanya. Isinya hanya terdiri atas sejumlah sayuran dan tanaman yang menjadi hasil pertanian warga, antara lain sawi, terong, lonjang, daun singkong, klobot jagung, serta bunga wawar.

Setelah rombongan kirab tiba di lokasi utama, rangkaian acara di lanjutkan dengan pemukulan beduk secara bergantian oleh para pegiat Komunitas Lima Gunung. Sebagai simbol di mulainya puncak perayaan festival.

Gunungan Sederhana Menjadi Simbol Kondisi Masyarakat

Panitia menjelaskan bahwa bentuk gunungan yang tidak lengkap bukan tanpa alasan. Susunan hasil bumi yang lebih sedikit di pilih sebagai simbol untuk menggambarkan situasi yang sedang di hadapi sebagian masyarakat, khususnya para petani.

Melalui simbol tersebut, penyelenggara ingin menyampaikan pesan mengenai berbagai tantangan yang masih di rasakan masyarakat pedesaan. Mulai dari hasil panen yang menurun hingga kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Gunungan sederhana menjadi bentuk refleksi bahwa seni dan budaya tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga media untuk menyampaikan realitas kehidupan.

Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa setiap unsur dalam Festival Lima Gunung memiliki makna filosofis yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Festival Bertahan 25 Tahun Tanpa Dukungan Sponsor

Perjalanan Festival Lima Gunung hingga memasuki usia seperempat abad menjadi pencapaian yang membanggakan bagi Komunitas Lima Gunung. Selama 25 tahun penyelenggaraan, festival ini tetap mempertahankan prinsip kemandirian dengan tidak melibatkan sponsor komersial maupun kepentingan tertentu.

Perwakilan Komunitas Lima Gunung menyampaikan bahwa seluruh kegiatan dapat terus berlangsung berkat keikhlasan, ketekunan, dan semangat para seniman serta warga yang terlibat. Nilai kebersamaan tersebut menjadi fondasi utama yang membuat festival tetap eksis hingga sekarang.

Generasi muda komunitas juga berharap semangat yang telah di wariskan selama puluhan tahun dapat terus di jaga. Sehingga Festival Lima Gunung tetap menjadi ruang kreatif bagi para pelaku seni di masa mendatang.

Pada perayaan tahun perak ini, penyelenggara mengangkat tema “Makin Goblok Bareng”. Sebuah tema yang di maknai sebagai ajakan untuk terus belajar, rendah hati, serta tumbuh bersama melalui proses berkesenian.

Kirab budaya Festival Lima Gunung XXV di Dusun Warangan, Magelang, dengan gunungan hasil bumi dan puluhan peserta seni tradisional.

Kemeriahan Festival Lima Gunung XXV di Warangan, Pakis, Magelang, Minggu (12/7/2026).

Warangan Kembali Menjadi Tuan Rumah Festival

Dusun Warangan memiliki makna khusus dalam perjalanan Festival Lima Gunung. Lokasi ini merupakan tempat penyelenggaraan festival pertama pada tahun 2001. Karena itu, ketika festival memasuki usia ke-25 tahun. Warangan kembali di pilih sebagai tuan rumah untuk mengenang perjalanan panjang komunitas tersebut.

Pemilihan lokasi tersebut menjadi simbol bahwa Festival Lima Gunung tetap berakar pada masyarakat desa yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan para seniman petani.

Menampilkan 85 Kelompok Seni dari Berbagai Daerah

Festival Lima Gunung XXV menghadirkan sebanyak 85 kelompok seni yang melibatkan sedikitnya 1.274 seniman dari berbagai wilayah di Indonesia.

Selain komunitas seni dari Kabupaten Magelang, festival juga di ikuti peserta yang berasal dari Yogyakarta, Semarang, Solo, Bogor, hingga Cirebon. Mereka menampilkan beragam pertunjukan, mulai dari tari tradisional, tari kontemporer, musik tradisi, hingga pameran seni rupa.

Tingginya minat peserta membuat panitia harus melakukan proses kurasi secara ketat. Seluruh pendaftaran dilakukan melalui sistem daring, kemudian di pilih berdasarkan kualitas pertunjukan serta durasi penampilan yang di batasi maksimal 15 menit.

Akibat keterbatasan waktu pelaksanaan, sejumlah kelompok seni belum dapat berpartisipasi pada festival tahun ini meskipun telah mendaftarkan diri.

Pendanaan Mengandalkan Penjualan Kaus Festival

Salah satu hal yang membedakan Festival Lima Gunung dari berbagai festival budaya lainnya adalah sistem pendanaannya. Penyelenggara menegaskan bahwa kegiatan ini tidak memperoleh bantuan sponsor, donatur, maupun pendanaan swadaya masyarakat.

Seluruh kebutuhan operasional festival di penuhi melalui hasil penjualan kaus resmi Festival Lima Gunung. Cara tersebut menjadi bentuk komitmen komunitas untuk menjaga independensi penyelenggaraan. Sekaligus mempertahankan nilai-nilai kebersamaan yang telah di bangun sejak awal berdirinya festival.

Di sisi teknis, panitia menyiapkan panggung utama berukuran 8 x 16 meter yang di lengkapi area persiapan alat musik, ruang pertunjukan tari, sistem tata suara berkekuatan 10.000 watt. Serta pencahayaan yang mendukung seluruh penampilan selama tiga hari.

Festival Menjadi Ruang Pelestarian Seni dan Budaya

Selama penyelenggaraan, Festival Lima Gunung menghadirkan puluhan pertunjukan seni dari pagi hingga malam yang dapat di nikmati masyarakat tanpa di pungut biaya.

Lebih dari sekadar festival budaya, kegiatan ini menjadi wadah bagi para seniman untuk berkarya, mempererat hubungan antarkomunitas. Sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia kepada masyarakat luas. Konsistensi penyelenggaraan selama 25 tahun membuktikan bahwa kolaborasi antara seniman, petani, dan warga mampu menjaga keberlangsungan sebuah festival budaya secara mandiri tanpa kehilangan identitas maupun nilai-nilai lokal yang menjadi fondasinya.