Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) – meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah daerah Indonesia. Strategi pemadaman dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan kekuatan satuan tugas (satgas) darat, dukungan udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang di hadapi petugas adalah berkurangnya ketersediaan air di daratan. Kondisi tersebut membuat tim harus mencari alternatif agar sumber air tetap tersedia dan dapat di jangkau dari lokasi kebakaran.
Oleh karena itu, BNPB bersama tim di lapangan melakukan sejumlah langkah untuk mendekatkan sumber air dengan titik panas. Upaya tersebut antara lain melalui pembangunan kanal, penggalian sumur bor, serta penyekatan di beberapa lokasi.
Strategi tersebut di harapkan dapat memperpendek jarak antara sumber air dan kawasan yang terbakar. Dengan demikian, petugas tidak perlu membawa atau menyalurkan air dari lokasi yang terlalu jauh ketika melakukan pemadaman.
Pemadaman Karhutla Dilakukan dari Darat dan Udara
Penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan personel yang bekerja di daratan. BNPB juga mengombinasikan operasi tersebut dengan dukungan pemadaman dari udara untuk mempercepat pengendalian titik panas.
Satgas darat menggunakan selang dan memanfaatkan sumber air yang tersedia dari kanal maupun titik penampungan lainnya. Sementara itu, helikopter water bombing bergerak dari udara untuk menjatuhkan air pada kawasan yang teridentifikasi mengalami kebakaran atau memiliki titik panas.
Menurut Berton, koordinasi antara dua satuan tugas tersebut menjadi bagian penting dalam operasi pemadaman. Meskipun medan yang di hadapi tidak mudah, personel telah memiliki pengalaman dan keterampilan dalam menjalankan operasi penanggulangan kebakaran.
Kombinasi pemadaman dari udara dan darat juga memungkinkan penanganan dilakukan secara lebih luas. Satgas udara dapat membantu menjangkau kawasan yang sulit di masuki melalui jalur darat, sedangkan personel di bawah dapat melakukan pemadaman lebih terarah sekaligus memastikan api tidak kembali muncul.
Modifikasi Cuaca Di manfaatkan untuk Memicu Hujan
Selain melakukan pemadaman secara langsung, BNPB memanfaatkan Operasi Modifikasi Cuaca sebagai salah satu strategi untuk membantu mengendalikan karhutla. Operasi tersebut di lakukan dengan penyemaian natrium klorida atau NaCl pada awan yang memenuhi persyaratan.
Secara keseluruhan, jumlah NaCl yang di gunakan dalam operasi mencapai 5.600 kilogram. Namun, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada keberadaan dan kondisi awan di atmosfer. Artinya, penyemaian tidak dapat di lakukan apabila tidak tersedia awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan.
BNPB tetap berupaya memanfaatkan setiap peluang yang tersedia. Bahkan, potensi pembentukan hujan dalam skala kecil tetap menjadi pertimbangan apabila kondisi atmosfer memungkinkan pelaksanaan operasi.
Di Riau, misalnya, OMC di lakukan sebanyak dua sorti dengan penggunaan sekitar 2.000 kilogram NaCl. Operasi serupa juga berlangsung di Jambi. Sementara itu, Kalimantan Barat mendapatkan satu sorti penyemaian dengan sekitar 800 kilogram NaCl.
Lampung juga menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan pelaksanaan OMC sebanyak satu sorti. Sebaliknya, operasi tersebut belum dapat di terapkan di beberapa provinsi karena kondisi atmosfer belum mendukung.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan di gedung BNPB, Senin (31/8/2026).
OMC Belum Bisa Dilakukan di Seluruh Daerah
Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah termasuk wilayah yang belum dapat menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca pada periode tersebut. Kendala utamanya berkaitan dengan belum tersedianya informasi mengenai keberadaan awan yang memenuhi kebutuhan penyemaian.
Meski demikian, BNPB terus memantau perkembangan atmosfer. Apabila muncul peluang terbentuknya hujan, operasi dapat kembali di pertimbangkan sebagai bagian dari strategi pengendalian kebakaran.
Sementara itu, pelaksanaan modifikasi cuaca di sejumlah daerah mulai menunjukkan dampak. Hujan dengan intensitas mulai dari ringan hingga lebat di laporkan turun di beberapa wilayah Riau, Jambi, dan Lampung.
Turunnya hujan di harapkan dapat membantu operasi pemadaman, terutama ketika persediaan air di permukaan tanah semakin terbatas. Kendati demikian, OMC tetap menjadi strategi pendukung karena keberhasilannya sangat di pengaruhi kondisi atmosfer.
Puluhan Hektare Lahan di Sumatera Selatan Masih Di Tangani
Penanganan karhutla juga terus di lakukan di Sumatera Selatan. Pemerintah pusat memperkuat koordinasi di daerah tersebut, termasuk melalui rapat koordinasi yang melibatkan Menteri Kehutanan dan Kepala BNPB di lapangan.
Berdasarkan data hingga 29 Agustus 2026, terdapat 11 titik api dengan total luas kawasan terdampak kebakaran sekitar 60 hektare. Dari luasan tersebut, petugas telah berhasil memadamkan sekitar 15 hektare.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 45 hektare lahan yang membutuhkan penanganan lanjutan. Satgas darat menjadi salah satu kekuatan utama yang di andalkan untuk menyelesaikan pemadaman di kawasan tersebut.
Hasil operasi darat di nilai memberikan kontribusi penting dalam pengendalian kebakaran. Atas dasar itu, BNPB bersama pemerintah daerah berencana meningkatkan kemampuan satgas melalui tambahan personel serta dukungan peralatan yang di butuhkan di lapangan.
Penguatan tersebut menjadi penting mengingat tantangan pemadaman tidak hanya berasal dari luasnya kawasan terdampak, tetapi juga keterbatasan air dan kondisi medan. Oleh sebab itu, kombinasi pemadaman darat, water bombing, penyediaan sumber air, serta modifikasi cuaca terus di jalankan untuk mempercepat pengendalian karhutla sekaligus mencegah kebakaran meluas ke wilayah lainnya.