Gerakan Budaya – Festival Kampung 5 di Kelurahan Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berkembang dari inisiatif komunitas tanpa dukungan modal besar maupun lembaga penyelenggara profesional. Kegiatan ini tumbuh dari semangat kebersamaan warga dan kini berubah menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas, pelaku budaya, serta masyarakat yang ingin menghidupkan kembali nilai solidaritas melalui pendekatan budaya.

Penggagas Festival Kampung, Jayadi, menjelaskan bahwa ide awal festival muncul dari keresahan anak muda yang ingin membangun ruang berkumpul berbasis budaya, kolaborasi, dan kemandirian ekonomi komunitas. Dari gagasan sederhana tersebut, kegiatan ini berkembang menjadi agenda rutin yang terus mengalami penguatan konsep dari tahun ke tahun.

Awal Mula Festival dari Ruang Musik Komunitas

Festival Kampung berawal dari aktivitas jamming atau sesi musik bersama yang rutin berlangsung di Kedai Itah pada akhir pekan. Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai kelompok komunitas di Palangka Raya, termasuk komunitas baca, komunitas menulis, komunitas motor, hingga pegiat seni dan budaya lokal.

Dari interaksi yang terbangun dalam kegiatan sederhana itu, lahir berbagai kegiatan kolaboratif yang kemudian berkembang menjadi rangkaian acara komunitas. Jayadi menyampaikan bahwa Festival Kampung pertama kali terselenggara pada tahun 2022 sebagai ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat yang memiliki semangat yang sama dalam membangun ekosistem budaya lokal.

Gerakan Tabungan Rp 5.000 sebagai Fondasi Kolektif

Seiring waktu, para penggagas festival merasa perlu membangun sistem yang lebih berkelanjutan untuk mendukung kegiatan komunitas. Mereka kemudian menciptakan gerakan tabungan Rp 5.000 yang dilakukan secara sukarela oleh para anggota komunitas dan mitra kegiatan.

Dana yang terkumpul dari kebiasaan sederhana tersebut digunakan untuk mendukung berbagai aktivitas festival dan memperkuat kerja sama antaranggota komunitas. Model ini mendorong rasa kepemilikan bersama terhadap kegiatan yang berlangsung.

Proses pengembangan tersebut tidak berjalan instan. Jayadi menyebut berbagai kegagalan dan penyesuaian terjadi selama perjalanan Festival Kampung. Namun, pengalaman tersebut justru memperkuat konsep acara hingga memasuki penyelenggaraan edisi kedua, ketiga, keempat, dan kini edisi kelima yang semakin matang secara konsep dan partisipasi.

Festival sebagai Ruang Budaya dan Refleksi Sosial

Jayadi menegaskan bahwa Festival Kampung tidak hanya berfungsi sebagai ajang hiburan tahunan. Ia memandang kegiatan ini sebagai ruang refleksi sosial yang mengingatkan masyarakat pada akar kehidupan sehari-hari, termasuk nilai budaya dan kebersamaan yang lahir dari lingkungan terdekat.

Ia menilai masyarakat sering membicarakan kehidupan tanpa memperhatikan fondasi paling dasar yang membentuknya. Oleh karena itu, Festival Kampung menghadirkan ruang pertemuan antara warga, petani, pelaku usaha, dan komunitas budaya untuk membangun kembali kesadaran kolektif tentang pentingnya akar sosial dan budaya.

Gerakan Budaya

Lawang Sekepeng yang membuka Festival Kampung 5 di Kelurahan Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya pada Minggu (21/6/2026).

Kopi Liberika sebagai Simbol Koneksi Komunitas

Pada penyelenggaraan Festival Kampung 5, panitia menggelar kegiatan penanaman kopi liberika sebagai bagian dari rangkaian acara. Kopi tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga simbol yang merepresentasikan hubungan sosial antarwarga.

Jayadi menjelaskan bahwa kopi menjadi medium yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat dalam satu ruang interaksi budaya. Melalui simbol tersebut, festival ingin menegaskan bahwa budaya tumbuh dari akar yang kuat sebelum berkembang menjadi dinamika sosial yang lebih luas.

Keberagaman Budaya dalam Satu Panggung

Festival Kampung 5 juga menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional dan modern. Tradisi Dayak seperti Lawang Sakepeng menjadi salah satu sorotan utama dalam kegiatan tersebut. Selain itu, festival juga menghadirkan tarian dari berbagai daerah, seperti tari Bali dan tari Papua, serta pertunjukan musik kontemporer.

Kehadiran berbagai bentuk seni tersebut mencerminkan upaya membangun ruang inklusif yang tidak membatasi ekspresi budaya. Jayadi menekankan bahwa keberagaman menjadi bagian penting dari identitas festival tanpa menghilangkan akar budaya lokal yang menjadi dasar utama kegiatan.

Pelestarian Tradisi Lawang Sakepeng di Festival Budaya

Festival Kampung 5 juga berperan dalam pelestarian budaya Dayak melalui penampilan Lawang Sakepeng, seni penyambutan tamu yang menggabungkan unsur tari, simbol kehormatan, dan gerakan bela diri tradisional.

Pengamat budaya sekaligus dewan juri Lawang Sakepeng pada Festival Budaya Isen Mulang 2026, Wilbertus Wilson, menjelaskan bahwa tradisi tersebut menonjolkan ekspresi kegembiraan dalam menyambut tamu. Ia menegaskan bahwa Lawang Sakepeng tidak dapat disamakan dengan pertarungan bela diri, melainkan bentuk seni budaya yang sarat makna sosial.

Wilbertus juga menilai bahwa pelibatan tradisi tersebut dalam berbagai festival budaya berperan penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Dayak. Selain nilai seni, tradisi ini juga mengandung unsur kedisiplinan, sportivitas, serta kebersamaan yang relevan bagi generasi muda.

Penutup: Festival Kampung sebagai Ruang Tumbuh Komunitas

Festival Kampung 5 menunjukkan bagaimana inisiatif berbasis komunitas mampu tumbuh menjadi gerakan budaya yang berkelanjutan. Melalui gotong royong, solidaritas, dan kreativitas, masyarakat berhasil membangun ruang yang mempertemukan berbagai latar belakang dalam satu wadah bersama.

Jayadi berharap Festival Kampung dapat terus berkembang sebagai ruang tumbuh bagi komunitas lokal tanpa kehilangan identitas budaya. Ia menekankan pentingnya menjaga akar budaya agar masyarakat tetap memiliki pijakan kuat dalam menghadapi perubahan zaman yang terus berlangsung.