NasionalIndo24.com – Selama ini banyak orang menganggap hewan bertubuh besar seperti gajah atau predator ganas seperti singa sebagai simbol ketangguhan di alam. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Di balik ukurannya yang nyaris tak terlihat, terdapat seekor cacing mikroskopis yang mampu bertahan hidup di lingkungan ekstrem yang selama bertahun-tahun di anggap mustahil di huni oleh hewan.
Makhluk tersebut bernama Halicephalobus mephisto, yang lebih dikenal dengan julukan cacing setan atau devil worm. Organisme ini hidup jauh di bawah permukaan Bumi pada lingkungan yang memiliki suhu tinggi, tekanan sangat besar, minim oksigen, dan sama sekali tidak tersentuh cahaya Matahari. Penemuannya menjadi salah satu pencapaian penting dalam dunia biologi karena mengubah cara ilmuwan memahami batas kemampuan kehidupan di planet ini.
Penemuan yang Mengubah Pandangan Ilmuwan
Sebelum dekade 1980-an, banyak ahli biologi meyakini bahwa kehidupan hampir tidak mungkin di temukan lebih dari beberapa puluh sentimeter di bawah permukaan tanah. Kondisi tanpa cahaya, minim oksigen, dan terbatasnya sumber energi di anggap tidak mampu mendukung keberlangsungan makhluk hidup.
Pandangan tersebut mulai berubah ketika para peneliti menemukan mikroorganisme berupa bakteri yang mampu bertahan hingga kedalaman beberapa kilometer di bawah tanah. Meski demikian, keberadaan hewan di lingkungan sedalam itu masih menjadi tanda tanya besar.
Jawaban atas pertanyaan tersebut akhirnya muncul pada 2011 melalui identifikasi Halicephalobus mephisto. Penemuan ini menjadi bukti pertama bahwa hewan multisel juga dapat hidup di kawasan biosfer dalam atau deep biosphere, yaitu wilayah jauh di bawah permukaan Bumi yang memiliki kondisi sangat ekstrem.
Cacing tersebut di temukan pada kedalaman sekitar 1,3 kilometer di bawah tanah, tepatnya di kawasan Tambang Emas Beatrix, Afrika Selatan. Lingkungan tempat hidupnya memiliki suhu sekitar 37 derajat Celsius, tekanan tinggi, serta hampir tidak mengandung cahaya maupun udara bebas.
Hidup Berdampingan dengan Mikroorganisme
Walaupun hanya berukuran beberapa helai rambut manusia, cacing setan memiliki peran penting dalam ekosistem bawah tanah. Hewan ini hidup di antara lapisan mikroba yang melekat pada bebatuan dan menjadikan bakteri sebagai sumber makanan utamanya.
Dalam rantai makanan sederhana tersebut, Halicephalobus mephisto justru menjadi predator terbesar. Setelah mati, tubuhnya akan di uraikan oleh bakteri serta mikroorganisme lainnya sehingga unsur hara kembali ke lingkungan. Siklus tersebut memungkinkan kehidupan terus berlangsung meski berada jauh dari permukaan Bumi.
Keberadaan ekosistem tersebut menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu bergantung pada cahaya Matahari sebagai sumber energi utama. Temuan ini sekaligus memperluas pemahaman mengenai berbagai bentuk kehidupan yang mampu berkembang di lingkungan yang sebelumnya di anggap tidak layak huni.
Sejumlah ilmuwan bahkan menilai masih banyak kehidupan lain yang belum berhasil di temukan di kedalaman Bumi. Kondisi tersebut membuka peluang lahirnya berbagai penelitian baru mengenai organisme ekstrem yang selama ini tersembunyi.
Berawal dari Satu Ekor Cacing
Penemuan cacing setan bermula pada 2008 ketika ahli biologi Gaetan Borgonie bersama timnya melakukan penelitian di Tambang Emas Beatrix. Mereka menyaring lebih dari 6.000 liter air yang berasal dari retakan batuan pada kedalaman sekitar 1,3 kilometer.
Hasilnya sangat mengejutkan. Dari ribuan liter air tersebut, para peneliti hanya menemukan seekor cacing hidup.
Penelitian kemudian diperluas ke dua tambang lainnya. Kali ini, tim menyaring lebih dari 12 juta liter air dan berhasil menemukan beragam organisme bawah tanah, mulai dari nematoda, jamur, mikroba hingga berbagai jenis invertebrata mikroskopis.
Borgonie mengaku tidak pernah membayangkan akan menemukan komunitas kehidupan yang begitu beragam di lokasi yang selama ini di anggap steril dari kehidupan.
Analisis lebih lanjut membuktikan bahwa cacing yang di temukan di Tambang Beatrix merupakan spesies baru yang belum pernah tercatat sebelumnya. Karena itu, pada 2011 ilmuwan resmi memberikan nama ilmiah Halicephalobus mephisto.

Ilustrasi cacing setan (devil worm).
Berkembang Biak Tanpa Pasangan
Selama proses penelitian, ilmuwan menemukan fakta yang tidak kalah menarik. Saat penyaringan dilakukan, bagian ekor cacing sempat terputus. Kondisi tersebut sebenarnya sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.
Meski demikian, sebelum mati cacing tersebut berhasil menghasilkan delapan telur yang kemudian menetas. Peneliti menemukan bahwa seluruh proses reproduksi terjadi tanpa adanya individu jantan.
Fenomena tersebut di kenal sebagai partenogenesis, yaitu kemampuan berkembang biak secara aseksual tanpa proses pembuahan oleh pejantan. Kemampuan ini di perkirakan menjadi salah satu strategi adaptasi paling penting bagi cacing setan.
Di habitat bawah tanah yang sangat luas, peluang bertemu individu lain dari spesies yang sama sangat kecil. Oleh karena itu, kemampuan menghasilkan keturunan sendiri memberikan keuntungan besar untuk mempertahankan populasi.
Seluruh keturunan dari satu-satunya cacing pertama itulah yang kini terus di pelajari di laboratorium guna mengungkap berbagai rahasia biologinya.
Mampu Bertahan pada Suhu yang Mematikan
Karakteristik lain yang membuat Halicephalobus mephisto istimewa adalah kemampuannya hidup optimal pada suhu tinggi.
Sebagian besar nematoda laboratorium berkembang dengan baik pada suhu ruangan sekitar 20 derajat Celsius. Sebaliknya, cacing setan justru tumbuh sangat lambat pada kondisi tersebut dan memerlukan waktu sekitar delapan hari untuk menyelesaikan satu siklus hidup.
Ketika di tempatkan pada suhu sekitar 37 derajat Celsius, proses pertumbuhan berlangsung jauh lebih cepat. Dalam kondisi yang biasanya mematikan bagi banyak spesies nematoda lain, cacing setan mampu berkembang biak hanya dalam waktu sekitar dua hari.
Selain itu, hewan ini juga memiliki preferensi makanan yang berbeda. Jika sebagian besar nematoda laboratorium mengonsumsi bakteri Escherichia coli, Halicephalobus mephisto lebih memilih jenis bakteri yang menyerupai sumber makanan alaminya di lingkungan bawah tanah.
Rahasia Genetik di Balik Ketahanannya
Penelitian genom yang di publikasikan pada 2019 mengungkap salah satu faktor utama yang membuat cacing setan mampu bertahan hidup di lingkungan ekstrem.
Para ilmuwan menemukan bahwa spesies ini memiliki jumlah gen pembentuk protein kejut panas atau heat shock proteins lebih banyak di bandingkan kerabat dekatnya. Protein tersebut berfungsi melindungi sel dari kerusakan akibat paparan suhu tinggi sehingga tubuh tetap mampu menjalankan proses biologis secara normal.
Penelitian lanjutan pada 2024 juga menemukan bahwa molekul penghasil energi di dalam tubuh cacing bekerja paling efektif ketika berada pada suhu tinggi. Sebaliknya, saat suhu turun mendekati suhu ruangan, aktivitas molekul tersebut menurun drastis sehingga metabolisme menjadi lebih lambat.
Strategi tersebut di perkirakan membantu cacing menghemat energi ketika berada di lingkungan yang kurang sesuai. Lalu meningkatkan aktivitas reproduksi saat kembali ke habitat panas yang menjadi tempat hidup alaminya.
Memberikan Petunjuk Mengenai Kehidupan di Planet Lain
Penemuan Halicephalobus mephisto tidak hanya penting bagi ilmu biologi, tetapi juga memiliki dampak besar dalam bidang astrobiologi. Kemampuan organisme ini bertahan di lingkungan yang sangat ekstrem memberikan gambaran bahwa kehidupan mungkin saja berkembang di tempat yang sebelumnya di anggap mustahil.
Para peneliti menilai apabila kehidupan pernah muncul di Mars, lokasi yang paling berpotensi menyimpan jejaknya adalah lapisan bawah permukaan planet tersebut yang terlindung dari radiasi dan perubahan suhu ekstrem.
Selain itu, biosfer dalam Bumi juga di perkirakan dapat menjadi tempat perlindungan terakhir apabila suatu saat terjadi bencana global yang memusnahkan kehidupan di permukaan planet.
Karena itu, keberadaan cacing setan menjadi bukti bahwa kehidupan memiliki kemampuan adaptasi yang jauh lebih luar biasa daripada yang pernah di bayangkan manusia. Organisme mikroskopis tersebut tidak hanya memperluas batas pengetahuan ilmiah. Tetapi juga membuka peluang baru dalam memahami asal-usul kehidupan sekaligus pencarian makhluk hidup di luar Bumi.