Amerika Serikat – bersiap memperluas kebijakan ekonomi terhadap Iran melalui serangkaian pembatasan baru. Washington mengklaim paket tersebut akan menjadi langkah ekonomi paling keras yang pernah diterapkan kepada Teheran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa pemerintah akan membuka detail kebijakan itu pada Senin (24/8/2026). Pemerintahan Presiden Donald Trump menempatkan langkah ekonomi sebagai salah satu instrumen utama untuk menghadapi Iran ketika konflik memasuki periode hampir enam bulan.

Washington berharap peningkatan tekanan finansial dapat membatasi ruang gerak Teheran tanpa memperbesar keterlibatan militer Amerika. Bessent berpandangan bahwa strategi ekonomi yang kuat bisa menekan peluang munculnya kembali operasi militer dalam skala besar.

Rencana tersebut sekaligus menandai babak baru hubungan kedua negara. Iran sebenarnya sudah lama berhadapan dengan berbagai pembatasan dari Washington. Namun, pemerintah Trump kini ingin meningkatkan intensitas kebijakan itu melalui cakupan yang lebih luas.

Washington Pilih Jalur Ekonomi untuk Menekan Teheran

Pemerintah Trump sebelumnya telah mengutarakan keinginan untuk meningkatkan isolasi ekonomi terhadap Iran. Washington juga memberikan peringatan kepada negara maupun lembaga yang tetap menyediakan dukungan kepada Teheran.

Pihak yang membantu aktivitas ekonomi Iran berpotensi menghadapi konsekuensi dari Amerika Serikat. Meski demikian, Washington belum mengungkap sektor, perusahaan, atau transaksi yang akan menjadi sasaran utama kebijakan terbaru.

Bessent menjelaskan bahwa pemerintah akan memberikan informasi lebih lengkap melalui konferensi pers pada awal pekan. Karena itu, dampak langsung terhadap aktivitas perdagangan internasional belum dapat dipastikan sebelum rincian resmi tersedia.

Amerika sebelumnya juga menggunakan tekanan melalui jalur maritim. Washington memberlakukan blokade laut pada April sebelum menghentikannya sementara selama sekitar satu bulan pada pertengahan Juni.

Pemerintah Trump kini berusaha mengombinasikan pembatasan tersebut dengan instrumen ekonomi. Strategi itu bertujuan mempersempit kemampuan Iran memperoleh pemasukan sekaligus mengurangi akses terhadap jaringan perdagangan internasional.

Pembatasan Ekonomi Bukan Persoalan Baru bagi Iran

Hubungan ekonomi Washington dan Teheran telah mengalami ketegangan selama beberapa dekade. Iran menghadapi berbagai kebijakan pembatasan dari Amerika sejak perubahan politik besar melalui Revolusi Islam pada 1979.

Sejak periode tersebut, AS berkali-kali menggunakan instrumen finansial dan perdagangan untuk memberikan tekanan kepada pemerintah Iran. Kondisi itu membuat perekonomian Teheran harus beradaptasi dengan akses internasional yang terbatas.

Kebijakan terbaru berpeluang memperluas tekanan pada sektor strategis. Bidang energi, transaksi keuangan, perdagangan internasional, serta hubungan dengan mitra asing dapat menjadi bagian penting dari strategi Washington.

Meski begitu, belum ada kepastian mengenai daftar target maupun mekanisme pelaksanaannya. Informasi tersebut akan menjadi perhatian setelah pemerintah Amerika memaparkan paket kebijakan secara resmi.

Perdagangan Minyak dengan China Jadi Faktor Penting

Hubungan Iran dengan China menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi efektivitas kebijakan Washington. Beijing selama ini mempunyai peran besar sebagai pembeli minyak asal Iran.

Data perusahaan analitik Kpler untuk 2025 menunjukkan China menyerap lebih dari 80 persen minyak Iran yang dikirim melalui laut. Besarnya perdagangan tersebut membuat posisi Beijing penting bagi perekonomian Teheran.

Situasi dapat berkembang semakin kompleks apabila Amerika memberikan pembatasan kepada perusahaan atau lembaga di luar Iran. Terutama terhadap pihak yang memfasilitasi penjualan dan pengiriman minyak.

Bessent menyebut Washington sedang berusaha menjalin komunikasi dengan Beijing mengenai persoalan tersebut. Pemerintah AS menilai stabilitas kawasan Teluk juga menjadi kepentingan China karena negara itu mengandalkan wilayah tersebut untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya.

Namun, pemerintah China memiliki pendekatan berbeda. Beijing tidak mendukung penggunaan tekanan ekonomi sebagai instrumen utama penyelesaian konflik.

Perwakilan China di Washington mendorong pihak-pihak terkait mengutamakan tanggung jawab dan penyelesaian melalui jalur politik. Diplomasi dinilai lebih tepat untuk mencari jalan keluar dibandingkan memperbesar tekanan ekonomi.

Amerika Serikat menyiapkan sanksi ekonomi terbaru terhadap Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara kepada media di South Lawn, Gedung Putih, Washington DC, 1 Mei 2026.

Teheran Menolak Langkah Baru Amerika

Iran merespons rencana Washington dengan kritik keras. Pemerintah Teheran memandang pembatasan perdagangan dan finansial sebagai bentuk tekanan yang menyasar kondisi ekonomi negara.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pendekatan tersebut sebagai “terorisme ekonomi”. Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa tekanan dari luar tidak akan mengubah sikapnya terkait kemerdekaan dan kedaulatan nasional.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi turut memberikan kritik terhadap pemerintahan Trump. Menurutnya, pernyataan dari Washington berkaitan dengan situasi politik dan ekonomi yang sedang berkembang di dalam Amerika.

Araqchi menyoroti persoalan utang pemerintah dan suku bunga AS. Ia berpandangan bahwa peningkatan tekanan terhadap Iran tidak akan menghasilkan tujuan yang diinginkan Washington.

Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa jalan menuju penyelesaian konflik masih panjang. Amerika mengandalkan peningkatan tekanan ekonomi, sedangkan Iran menunjukkan sikap menolak tuntutan dari Washington.

Konflik Berpengaruh terhadap Kondisi Ekonomi dan Politik AS

Perang yang hampir berlangsung selama enam bulan tidak hanya memengaruhi kawasan Timur Tengah. Pemerintah Trump juga menghadapi tekanan dari masyarakat di dalam negeri terkait kelanjutan konflik.

Harga bahan bakar menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian. Kenaikan biaya energi dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat sekaligus tingkat kepuasan terhadap pemerintah.

Situasi tersebut semakin penting menjelang pemilu sela Kongres pada November 2026. Perkembangan ekonomi dan kebijakan luar negeri dapat menjadi faktor yang memengaruhi posisi politik Partai Republik.

Konflik sendiri telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan menyeret sejumlah negara di kawasan Teluk. Karena itu, setiap perubahan strategi Washington dan Teheran memiliki potensi memengaruhi stabilitas regional.

Selat Hormuz Tetap Menjadi Jalur Strategis

Posisi Selat Hormuz membuat konflik Iran memiliki pengaruh besar terhadap pasar energi internasional. Jalur laut tersebut merupakan salah satu titik penting pengiriman minyak dunia.

Sebelum Februari, sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati kawasan itu. Gangguan terhadap aktivitas kapal dapat memengaruhi pasokan sekaligus mendorong perubahan harga energi internasional.

Iran telah memperlihatkan kemampuannya untuk memengaruhi kelancaran pelayaran di sekitar Selat Hormuz. Situasi tersebut membuat negara-negara yang bergantung pada pasokan energi kawasan Teluk terus mengikuti perkembangan konflik.

Upaya meredakan ketegangan sebenarnya sudah dilakukan. Amerika dan Iran sempat mencapai dua kesepakatan penghentian pertempuran pada April dan Juni.

Kesepakatan tersebut diarahkan untuk memperbaiki keamanan pelayaran sekaligus membuka peluang penyelesaian konflik. Akan tetapi, kedua upaya itu tidak bertahan lama dan ketegangan kembali meningkat.

Rincian Sanksi AS Akan Menentukan Dampaknya

Washington sekarang kembali mengandalkan instrumen ekonomi sebagai bagian dari strategi menghadapi Teheran. Langkah tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas apabila turut menyasar mitra perdagangan Iran.

Perhatian utama akan tertuju pada rincian paket yang dijadwalkan diumumkan pada Senin. Target sektor, mekanisme pelaksanaan, serta kemungkinan pembatasan terhadap pihak ketiga akan menentukan seberapa besar pengaruh kebijakan tersebut.

Respons China juga menjadi faktor penting mengingat besarnya perdagangan energi antara Beijing dan Teheran. Pada saat bersamaan, sikap Iran menunjukkan bahwa tekanan ekonomi belum tentu segera menghasilkan perubahan politik.

Dengan kondisi tersebut, kebijakan baru Amerika tidak hanya menyangkut hubungan bilateral dengan Iran. Dampaknya berpotensi menjalar ke perdagangan minyak, stabilitas kawasan Teluk, hingga perekonomian dunia apabila ketegangan kembali meningkat.