Mapag – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 2026, masyarakat Kabupaten Ciamis kembali menunjukkan kekayaan budaya lokal yang masih terjaga hingga saat ini. Ramadan tidak hanya di maknai sebagai momentum peningkatan ibadah secara individual, tetapi juga menjadi ruang kolektif untuk memperkuat nilai spiritual, sosial, dan budaya melalui berbagai tradisi adat yang di kenal sebagai mapag Ramadan. Tradisi ini tumbuh dan berkembang sebagai warisan leluhur yang terus di lestarikan lintas generasi.
Keberadaan tradisi mapag Ramadan di Ciamis mencerminkan hubungan erat antara ajaran keagamaan dan kearifan lokal. Masyarakat tidak memisahkan ritual keagamaan dari nilai kebudayaan, melainkan mengharmoniskannya dalam bentuk kegiatan sosial, ziarah, doa bersama, hingga gotong royong membersihkan lingkungan. Hal inilah yang menjadikan tradisi mapag Ramadan memiliki makna yang lebih luas, baik secara spiritual maupun sosial.
Makna Sosial dan Spiritual Tradisi Mapag Ramadan
Tradisi mapag Ramadan berfungsi sebagai sarana penyucian diri, baik lahir maupun batin, sebelum memasuki bulan puasa. Proses ini tidak hanya di wujudkan melalui ritual simbolik, tetapi juga melalui refleksi diri, saling memaafkan, dan mempererat silaturahmi antarmasyarakat. Nilai gotong royong yang mengiringi setiap prosesi adat menunjukkan bahwa kebersamaan masih menjadi fondasi utama kehidupan sosial masyarakat Ciamis.
Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ciamis menilai bahwa tradisi mapag Ramadan memiliki dimensi edukatif yang penting, khususnya bagi generasi muda. Melalui tradisi ini, pelajar dan kaum muda di perkenalkan pada sejarah lokal, peran para leluhur, serta nilai-nilai moral yang relevan dengan kehidupan masa kini. Tradisi bukan sekadar ritual seremonial, melainkan media pembelajaran sosial dan spiritual.
Pelestarian Warisan Leluhur dalam Konteks Kekinian
Kabupaten Ciamis di kenal sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan sejarah, mulai dari masa prasejarah hingga era kerajaan dan penyebaran Islam. Tradisi mapag Ramadan menjadi salah satu bukti keberlanjutan peradaban tersebut. Setiap ritual adat yang di laksanakan mengandung narasi sejarah dan penghormatan terhadap tokoh-tokoh masa lalu yang berjasa dalam membangun kehidupan religius dan sosial masyarakat.
Pelestarian tradisi ini juga mencerminkan rasa syukur kepada Tuhan atas keberlanjutan kehidupan dan keharmonisan sosial. Dengan tetap menjalankan ritual adat, masyarakat Ciamis secara tidak langsung menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat ketahanan sosial di tengah perubahan zaman.
Ragam Tradisi Budaya Jelang Ramadan di Ciamis 2026

Salah satu tradisi di Ciamis jelang Bulan Ramadan.
Tradisi Nyepuh Ciomas
Tradisi Nyepuh di laksanakan di Situs Geger Emas, Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu. Kegiatan ini di isi dengan ziarah ke makam para leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh penyebar Islam di wilayah tersebut. Nyepuh dimaknai sebagai upaya meneladani nilai kebijaksanaan, keteladanan, serta memperkuat rasa kebersamaan antarwarga.
Tradisi Misalin Cimaragas
Misalin di gelar di Situs Bojonggaluh Salawe, Kecamatan Cimaragas, dan di laksanakan oleh komunitas adat Kawargian Galuh Salawe. Tradisi ini di maknai sebagai prosesi penyucian diri secara menyeluruh, baik fisik maupun spiritual, sebagai persiapan menyambut Ramadan. Misalin menjadi simbol kesiapan batin masyarakat dalam menjalani ibadah puasa.
Tradisi Ngikis Karangkamulyan
Ngikis di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, merupakan tradisi turun-temurun yang berfokus pada penghormatan leluhur dan pensucian hati. Prosesi ini diyakini sebagai bentuk penguatan moral agar masyarakat terhindar dari perilaku negatif selama bulan Ramadan.
Tradisi Merlawu Susuru Kertabumi
Tradisi Merlawu dilaksanakan di Situs Prabu Dimuntur, Desa Kertabumi. Prosesi ini terdiri dari ziarah makam, penuturan sejarah leluhur, serta balaecrakan atau makan bersama. Merlawu menjadi simbol persatuan, solidaritas, dan kerukunan sosial dalam kehidupan masyarakat.
Tradisi Ngikis Gunung Padang
Ngikis di Situs Gunung Padang, Kecamatan Sindangkasih, di lakukan melalui kegiatan pembersihan lingkungan situs dan doa bersama. Tradisi ini menekankan kepedulian terhadap warisan sejarah sekaligus permohonan keselamatan dan kelancaran dalam menyambut Ramadan.
Tradisi Nadran Manguntapa
Nadran di gelar di Situs Ki Manguntapa, Desa Baregbeg, dan melibatkan masyarakat serta pegiat budaya. Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini di isi dengan bebersih makam leluhur sebagai wujud penghormatan dan pelestarian nilai budaya lokal.