Integrasi Tiket Pantai Papuma dan Watu Ulo – Pemerintah Kabupaten Jember mengawali tahun 2026 dengan kebijakan strategis di sektor pariwisata. Salah satu langkah penting yang di terapkan adalah integrasi tiket masuk di dua destinasi unggulan pesisir selatan, yaitu Pantai Papuma dan Pantai Watu Ulo. Melalui kebijakan ini, wisatawan cukup membayar satu kali tiket untuk mengakses kedua kawasan wisata tersebut.
Kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan mempermudah wisatawan. Lebih dari itu, langkah ini menjadi bagian dari reformasi tata kelola pariwisata daerah yang berorientasi pada efisiensi dan keberlanjutan.
Penerapan Sistem Tiket Satu Pintu di Awal 2026
Mulai 2 Januari 2026, sistem tiket terintegrasi resmi di berlakukan. Harga tiket di tetapkan sebesar Rp12.500 per orang. Sebelumnya, wisatawan harus membayar dua tiket terpisah dengan total biaya yang lebih tinggi. Oleh karena itu, kebijakan baru ini dinilai lebih ekonomis dan ramah bagi pengunjung.
Selain bertepatan dengan awal tahun, peluncuran kebijakan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-97 Pemerintah Kabupaten Jember. Momentum tersebut di manfaatkan untuk memperkenalkan inovasi layanan publik di bidang pariwisata.
Sinergi Pemerintah Daerah dan Perhutani
Penerapan integrasi tiket merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Jember dan Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur. Kesepakatan ini sebelumnya telah di formalkan melalui nota kesepahaman antara kepala daerah dan pihak pengelola kawasan hutan.
Dengan adanya kerja sama tersebut, pengelolaan kawasan wisata menjadi lebih terkoordinasi. Selain itu, pembagian kewenangan dan tanggung jawab dapat di lakukan secara lebih jelas. Akibatnya, potensi konflik pengelolaan dapat di minimalkan.
Digitalisasi Pembayaran dan Transparansi Data
Seiring penerapan tiket satu pintu, pemerintah daerah juga memperkenalkan sistem pembayaran berbasis daring. Sistem ini di rancang untuk meningkatkan transparansi serta mengurangi potensi kebocoran pendapatan. Melalui dasbor digital, data kunjungan wisatawan kini dapat di pantau secara real-time.
Sebagai hasil awal, jumlah kunjungan pada hari pertama penerapan kebijakan menunjukkan angka yang signifikan. Ribuan wisatawan tercatat memasuki kawasan Papuma–Watu Ulo hingga sore hari. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan baru mendapat respons positif dari masyarakat.

Batu memanjang yang konon merupakan jelmaan seekor ular naga ini menjadi latar belakang penamaan Watu Ulo pada pantai ini.
Pengembangan Infrastruktur Pendukung Wisata
Tidak berhenti pada integrasi tiket, Pemerintah Kabupaten Jember juga menyiapkan rencana pengembangan infrastruktur sepanjang tahun 2026. Fokus utama di arahkan pada pembangunan loket otomatis dan palang pintu elektrik. Fasilitas ini di harapkan mampu mempercepat arus masuk wisatawan.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan layanan shuttle gratis bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan besar. Kebijakan ini penting mengingat tidak semua jalur menuju kawasan pantai dapat dilalui bus berukuran besar. Dengan demikian, kenyamanan dan keselamatan wisatawan tetap terjaga.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Lokal
Kebijakan integrasi tiket tidak hanya berdampak pada aspek teknis pengelolaan wisata. Lebih jauh, langkah ini di arahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. Dengan meningkatnya kunjungan, sektor usaha mikro dan jasa transportasi lokal memiliki peluang berkembang.
Selain itu, pemerintah berupaya mengintegrasikan pelaku UMKM ke dalam ekosistem pariwisata. Strategi ini di harapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru. Pada akhirnya, sektor pariwisata dapat berkontribusi dalam menurunkan angka kemiskinan, khususnya di wilayah Ambulu dan Wuluhan.
Persepsi Wisatawan terhadap Kebijakan Baru
Dari sudut pandang wisatawan, kebijakan tiket satu pintu di nilai memberikan manfaat nyata. Harga yang lebih terjangkau di anggap sebanding dengan keindahan alam yang di tawarkan. Selain itu, kemudahan akses menjadi nilai tambah yang di rasakan langsung oleh pengunjung.
Namun demikian, wisatawan juga berharap adanya peningkatan fasilitas secara berkelanjutan. Penataan kawasan, kebersihan, dan keamanan menjadi aspek penting yang perlu di jaga. Dengan pengelolaan yang konsisten, kawasan Papuma dan Watu Ulo berpotensi menjadi model pengembangan pariwisata daerah yang inklusif dan berdaya saing.