Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI – di jadwalkan akan kembali meramaikan Kota Yogyakarta pada 25 Februari hingga 3 Maret 2026. Menariknya, penyelenggaraan PBTY tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Sehingga panitia menyiapkan sejumlah penyesuaian agar kegiatan budaya tetap berjalan harmonis dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

PBTY merupakan agenda budaya tahunan yang telah menjadi ikon keberagaman dan toleransi di Yogyakarta. Event ini tidak hanya menampilkan kekayaan budaya Tionghoa, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial lintas budaya dan agama yang saling menghormati.

Pengaturan Zona Halal dan Non-Halal yang Ketat

Dalam pelaksanaan PBTY XXI, panitia memastikan adanya pemisahan yang tegas antara zona halal dan non-halal, khususnya pada area bazar kuliner. Wakil Ketua Pelaksana PBTY XXI, Subekti Saputro Wijaya, menjelaskan bahwa dari total 172 stan bazar yang di siapkan. Sebanyak 30 stan secara khusus di tempatkan di zona non-halal.

Zona tersebut tidak hanya di pisahkan secara lokasi, tetapi juga di atur dari sisi jam operasional. Stan makanan halal di perbolehkan mulai beroperasi sebelum pukul 17.00 WIB, sedangkan stan non-halal baru dapat membuka lapaknya setelah waktu tersebut. Pengaturan ini bertujuan untuk menjaga kenyamanan pengunjung yang menjalankan ibadah puasa.

Langkah ini mencerminkan komitmen panitia dalam mengedepankan nilai toleransi dan saling menghargai di tengah keberagaman masyarakat Yogyakarta.

Kawasan Ketandan sebagai Pusat Kegiatan Budaya

Seluruh rangkaian kegiatan PBTY XXI akan dipusatkan di Kawasan Ketandan. Yang di kenal sebagai salah satu kawasan bersejarah dengan kuatnya jejak budaya Tionghoa di Yogyakarta. Selain bazar kuliner, kawasan ini juga akan menjadi pusat berbagai pertunjukan seni dan aktivitas budaya.

Panitia berharap pemilihan lokasi ini dapat memperkuat nilai historis PBTY sekaligus memberikan pengalaman budaya yang autentik bagi pengunjung. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XXI 2026

Ilustrasi : Suasana Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XXI 2026 yang digelar di kawasan Ketandan dengan beragam pertunjukan budaya dan bazar.

Pameran Budaya Bertema Sejarah Pramuka

Selain hiburan dan bazar, PBTY XXI juga menghadirkan unsur edukatif melalui pameran budaya bertema “Pandu”, yang merupakan cikal bakal gerakan Pramuka di Indonesia. Pameran ini akan di selenggarakan di Rumah Budaya Ketandan.

Tema tersebut di pilih karena memiliki keterkaitan sejarah dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang di kenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Melalui pameran ini, pengunjung di ajak memahami hubungan antara nilai kepramukaan, sejarah nasional, dan kontribusi budaya Tionghoa dalam perjalanan bangsa.

Pertunjukan Seni dan Lomba Anak

Selama tujuh hari pelaksanaan, PBTY XXI akan menyuguhkan berbagai pertunjukan seni tradisional. Salah satunya adalah wayang potehi yang akan tampil setiap hari. Pertunjukan ini menjadi daya tarik tersendiri karena jarang di temui dalam agenda budaya lainnya.

Tidak hanya itu, panitia juga menggelar beragam lomba untuk anak-anak. Seperti lomba kostum bernuansa Tionghoa, lomba menyanyi lagu Mandarin. Serta pertunjukan tari kreasi dan modern. Kegiatan ini bertujuan untuk melibatkan generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai keberagaman budaya.

Konsep Ngabuburit Tematik Selama Ramadhan

Menyesuaikan dengan suasana Ramadhan, PBTY XXI mengusung konsep ngabuburit tematik. Pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas menjelang waktu berbuka puasa, seperti senam taichi bersama, zumba, lari santai bertajuk NgabubuRun, hingga kegiatan mendongeng untuk anak-anak.

Sebagai bentuk kepedulian sosial, panitia juga akan membagikan takjil gratis di beberapa titik strategis, antara lain di depan gapura utama Ketandan dan kawasan Jalan Suryatmajan.

Malioboro Imlek Karnaval sebagai Agenda Puncak

Agenda utama PBTY XXI adalah Malioboro Imlek Karnaval yang akan di gelar pada Sabtu, 28 Februari 2026, pukul 20.00 hingga 22.30 WIB. Karnaval ini akan mengambil rute dari Gedung DPRD Kota Yogyakarta hingga Titik Nol Kilometer.

Menampilkan arak-arakan budaya yang meriah dan penuh warna. Panitia menargetkan kegiatan sudah di mulai sejak sore hari agar masyarakat yang berpuasa dapat menikmati suasana ngabuburit sambil menyaksikan pertunjukan budaya yang di sajikan.