Nilai tukar mata uang Iran – rial, mengalami penurunan drastis dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan gelombang demonstrasi besar-besaran yang berlangsung selama lebih dari dua pekan di berbagai wilayah Iran. Tekanan ekonomi yang semakin berat membuat rial kembali mencetak rekor terendah sepanjang sejarah di pasar terbuka, mencerminkan kondisi ekonomi nasional yang berada dalam situasi krisis serius.
Pada pertengahan Januari 2026, nilai tukar rial terhadap dolar Amerika Serikat menembus angka lebih dari satu juta rial per dolar. Angka tersebut menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas moneter Iran, terutama ketika kepercayaan pasar terus menurun akibat faktor politik, ekonomi, dan geopolitik yang saling berkaitan.
Nilai Tukar Rial Iran terhadap Rupiah Indonesia
Jika di konversikan ke dalam mata uang Indonesia, posisi rial Iran berada pada level yang sangat lemah. Berdasarkan perhitungan nilai tukar internasional, satu rial Iran hanya bernilai sekitar Rp0,01. Dengan kata lain, satu rupiah Indonesia setara dengan puluhan hingga ratusan rial Iran.
Sebagai gambaran, kepemilikan 100.000 rial Iran hanya bernilai sekitar Rp1.500-an. Kondisi ini menunjukkan bahwa mata uang Iran hampir kehilangan fungsinya sebagai alat penyimpan nilai. Pelemahan ekstrem tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari depresiasi yang berlangsung bertahun-tahun tanpa pemulihan signifikan.
Inflasi Tinggi dan Daya Beli Masyarakat yang Tergerus
Salah satu penyebab utama jatuhnya nilai rial adalah inflasi yang sangat tinggi dan berlangsung secara kronis. Selama kurang lebih delapan tahun terakhir, Iran mencatatkan tingkat inflasi tahunan rata-rata di kisaran 43 persen. Inflasi yang terus-menerus ini menyebabkan harga barang dan jasa meningkat secara tajam, bahkan mencapai lebih dari 17 kali lipat di bandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Lonjakan harga tersebut secara langsung menggerus daya beli masyarakat. Di perkirakan, lebih dari 90 persen penduduk Iran merasakan dampak penurunan kesejahteraan akibat inflasi yang tidak terkendali. Pendapatan riil masyarakat terus menyusut, sementara kebutuhan pokok semakin sulit di jangkau.
Kenaikan Harga Emas sebagai Indikator Krisis
Tekanan inflasi juga tercermin dari lonjakan harga emas di dalam negeri. Secara global, harga emas memang mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di Iran, lonjakan harga emas jauh lebih ekstrem akibat kombinasi pelemahan mata uang dan inflasi domestik.
Harga emas 18 karat di Iran meningkat lebih dari seratus kali lipat dalam rentang waktu beberapa tahun. Kenaikan ini bukan hanya mencerminkan nilai emas itu sendiri, tetapi juga menjadi indikator hilangnya kepercayaan terhadap rial sebagai mata uang nasional. Bagi masyarakat Iran, emas menjadi salah satu instrumen perlindungan nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.

Mata Uang Iran.
Sanksi Internasional dan Isolasi Ekonomi
Runtuhnya nilai rial tidak dapat di lepaskan dari tekanan eksternal, khususnya sanksi internasional. Sejak akhir 2025, sanksi global kembali di berlakukan terhadap Iran setelah gagalnya upaya mempertahankan pelonggaran sanksi terkait kesepakatan non-proliferasi nuklir. Sanksi tersebut mencakup embargo senjata, pembatasan program rudal balistik, pembekuan aset, serta larangan perjalanan bagi pihak tertentu.
Selain itu, sanksi dari Uni Eropa turut mempersempit ruang gerak ekonomi Iran, terutama yang berkaitan dengan isu hak asasi manusia dan keterlibatan Iran dalam konflik geopolitik global. Kombinasi sanksi ini memperparah isolasi ekonomi dan menekan arus perdagangan serta investasi asing.
Dampak Sosial dan Gelombang Demonstrasi
Penurunan nilai rial menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya aksi protes di Iran. Masyarakat menghadapi lonjakan biaya hidup yang signifikan, terutama pada sektor pangan. Harga bahan makanan di laporkan meningkat lebih dari 70 persen di bandingkan tahun sebelumnya.
Banyak warga mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan dasar seperti susu dan bahan pangan lainnya yang melonjak berkali-kali lipat. Kondisi ini memicu kemarahan publik karena pendapatan tidak mampu mengimbangi laju inflasi. Demonstrasi pun menjadi bentuk ekspresi ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan ekonomi pemerintah yang di nilai belum mampu menstabilkan harga dan melindungi daya beli rakyat.
Penutup
Pelemahan nilai tukar rial Iran merupakan refleksi dari krisis ekonomi multidimensi yang mencakup inflasi tinggi, tekanan sanksi internasional, serta ketidakstabilan sosial. Selama faktor-faktor struktural ini belum tertangani secara menyeluruh, tekanan terhadap mata uang dan kesejahteraan masyarakat Iran diperkirakan masih akan berlanjut.