Surabaya – menyimpan berbagai peninggalan sejarah dari masa kolonial yang hingga kini masih dapat di jumpai. Salah satu peninggalan tersebut adalah sebuah lapangan golf tua yang telah berdiri sejak era Hindia Belanda. Keberadaan lapangan golf ini tidak hanya menjadi saksi perkembangan olahraga modern di Indonesia, tetapi juga menyimpan cerita unik berupa makam tua yang berada di dalam areanya.
Lapangan golf tersebut di kenal sebagai salah satu lapangan golf tertua di Jawa Timur. Lokasinya berada di kawasan yang dahulu bernama Goenoengsariweg, yang kini di kenal sebagai Jalan Ahmad Yani. Sejak di buka pada akhir abad ke-19, kawasan ini berkembang menjadi pusat aktivitas olahraga kaum elite kolonial.
Munculnya Makam Tua di Area Hole 18
Di area hole 18 lapangan golf tersebut, terdapat sebuah makam tua yang keberadaannya menarik perhatian banyak orang. Makam ini di kenal masyarakat setempat dengan sebutan makam Mbah Deler. Seiring waktu, makam tersebut menjadi sumber berbagai cerita lisan yang berkembang di lingkungan sekitar.
Keberadaan makam di tengah lapangan golf menimbulkan pertanyaan mengenai siapa sosok yang di makamkan di sana. Cerita yang beredar menyebutkan bahwa makam tersebut merupakan milik seorang tokoh Belanda yang memiliki peran penting dalam pembukaan lahan kawasan tersebut.
Asal Mula Cerita Rakyat tentang Mbah Deler
Nama Mbah Deler di yakini berasal dari penyederhanaan pelafalan nama asing oleh masyarakat lokal. Dalam beberapa versi cerita, tokoh ini di sebut sebagai Van Deuller, yang kemudian berubah pengucapannya menjadi Deler agar lebih mudah di ingat dan di ucapkan.
Cerita rakyat berkembang dengan menggambarkan Mbah Deler sebagai sosok yang memiliki hubungan erat dengan lapangan golf. Salah satu cerita yang paling populer adalah anggapan bahwa Mbah Deler merupakan seorang pegolf andal. Anggapan ini muncul karena di makam tersebut terdapat ornamen yang menyerupai piala berbahan logam.
Ornamen Makam dan Tafsir Simbolik Masyarakat
Keberadaan ornamen berbentuk piala di atas makam memicu berbagai penafsiran. Masyarakat kemudian mengaitkannya dengan prestasi olahraga golf, sehingga muncul anggapan bahwa Mbah Deler merupakan tokoh penting dalam sejarah golf di Surabaya.
Selain itu, berkembang pula mitos mengenai kualat atau karma bagi siapa pun yang tidak menghormati makam tersebut. Mitos ini memperkuat kesan mistis yang melekat pada sosok Mbah Deler dan menjadikan makam tersebut tidak hanya sebagai objek sejarah, tetapi juga bagian dari kepercayaan lokal.
Namun, dalam konteks budaya kolonial, ornamen semacam itu sebenarnya merupakan elemen dekoratif yang lazim digunakan oleh kalangan bangsawan Eropa pada masa itu, dan tidak selalu berkaitan dengan olahraga atau prestasi tertentu.

Lapangan golf di Surabaya
Fakta Historis Sosok yang Dimakamkan
Catatan sejarah menyebutkan bahwa makam di kawasan Gunung Sari tersebut merupakan tempat peristirahatan seorang pejabat tinggi kolonial bernama Fredrik Jacob Rothenbuhler. Ia di kenal sebagai tokoh pemerintahan dan pengusaha yang memiliki pengaruh besar di wilayah timur Hindia Belanda.
Rothenbuhler pernah menjabat sebagai residen di beberapa wilayah serta tercatat tinggal di kediaman resmi pemerintahan kolonial. Selain menjalankan tugas administratif, ia juga aktif dalam dunia usaha, termasuk di bidang industri dan perdagangan.
Aktivitas bisnis yang padat membuat perannya dalam pemerintahan kerap di nilai kurang optimal. Situasi politik pada masa itu juga tengah mengalami dinamika, terutama menjelang peralihan kekuasaan dari pemerintahan Belanda ke Inggris.
Perbedaan Waktu antara Makam dan Lapangan Golf
Secara kronologis, terdapat perbedaan waktu yang cukup jauh antara wafatnya Rothenbuhler dan berdirinya lapangan golf Gunung Sari. Rothenbuhler meninggal dunia pada tahun 1836, sementara lapangan golf baru mulai beroperasi pada 1898.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa tokoh yang di makamkan tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan olahraga golf. Dengan demikian, anggapan bahwa Mbah Deler merupakan seorang pegolf sejati tidak memiliki dasar historis yang kuat.
Folklor Lokal sebagai Bagian dari Sejarah Kota
Kisah tentang Mbah Deler menunjukkan bagaimana sejarah kolonial dapat bercampur dengan folklor lokal. Proses pelafalan nama, penafsiran simbol makam, serta berkembangnya mitos merupakan bentuk adaptasi masyarakat dalam memahami peninggalan masa lalu.
Cerita-cerita tersebut menjadi bagian dari narasi kolektif warga Surabaya dan memperkaya khazanah sejarah lokal. Makam Mbah Deler tidak hanya merepresentasikan sosok individu, tetapi juga menggambarkan dinamika interaksi antara sejarah tertulis dan tradisi lisan masyarakat.