Curah hujan – dengan intensitas tinggi yang terjadi secara berkelanjutan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya sejak akhir Januari 2026 telah memicu terjadinya genangan dan banjir di sejumlah kawasan permukiman. Berdasarkan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, hingga Minggu, 25 Januari 2026, masih terdapat sejumlah rukun tetangga (RT) serta satu ruas jalan utama yang terdampak genangan air.

Fenomena ini menunjukkan bahwa faktor cuaca ekstrem masih menjadi tantangan utama dalam pengelolaan risiko banjir di wilayah perkotaan padat penduduk seperti Jakarta. Intensitas hujan yang tinggi dalam waktu lama berdampak langsung pada kapasitas drainase, sungai, dan sistem pengendalian air yang ada.

Sebaran Wilayah Terdampak Banjir di Jakarta

BPBD DKI Jakarta mencatat sedikitnya 19 RT yang masih mengalami genangan air dengan ketinggian bervariasi. Wilayah Jakarta Timur menjadi area dengan jumlah RT terdampak terbanyak, di susul Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Di Jakarta Barat, genangan terpantau di wilayah Kelurahan Kembangan Selatan dan Kembangan Utara. Ketinggian air berkisar antara 30 hingga 40 sentimeter, yang berdampak pada aktivitas warga dan akses lingkungan permukiman. Selain itu, satu ruas jalan utama, yakni Jalan Kembangan Raya, juga terendam air dengan ketinggian sekitar 35 sentimeter sehingga berpotensi mengganggu mobilitas lalu lintas.

Sementara itu, Jakarta Timur mengalami kondisi yang lebih signifikan. Genangan terjadi di Kelurahan Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, dan Cililitan. Di beberapa titik, khususnya di Bidara Cina dan Kampung Melayu, ketinggian air mencapai lebih dari satu meter. Kondisi ini menyebabkan sebagian warga tidak dapat bertahan di rumah dan memilih mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Di wilayah Jakarta Utara, genangan masih terpantau di Kelurahan Kapuk Muara dengan ketinggian air sekitar 40 sentimeter. Meskipun jumlah RT terdampak relatif lebih sedikit dibanding wilayah lain, kawasan pesisir tetap memiliki kerentanan tinggi terhadap genangan akibat kombinasi hujan dan kondisi geografis.

19 Lokasi Jakarta Masih Tergenang Banjir

Pengendara dan pejalan kaki melewati Banjir

Dampak Banjir terhadap Masyarakat dan Aktivitas Harian

Banjir yang melanda sejumlah wilayah Jakarta berdampak langsung pada kehidupan sosial masyarakat. Ratusan warga terpaksa mengungsi ke berbagai lokasi penampungan sementara, seperti masjid, mushola, balai warga, serta fasilitas pendidikan. Tempat-tempat tersebut dipilih karena dinilai lebih aman dan mampu menampung warga dalam jumlah cukup besar.

Sebagian besar pengungsi berasal dari kelompok keluarga dengan anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya. Kondisi ini menuntut kesiapan pemerintah daerah dalam menyediakan kebutuhan dasar, termasuk makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta perlengkapan darurat lainnya.

Selain dampak sosial, banjir juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan pendidikan. Terendamnya jalan serta fasilitas umum dapat menghambat mobilitas warga, distribusi barang, serta kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah yang di jadikan lokasi pengungsian.

Upaya Penanganan dan Koordinasi Penanggulangan Banjir

Dalam menghadapi situasi tersebut, BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk melakukan pemantauan intensif di seluruh wilayah terdampak. Koordinasi dilakukan dengan berbagai instansi terkait, seperti Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, dan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, guna mempercepat proses penyedotan air dan memastikan sistem drainase berfungsi optimal.

Selain upaya teknis, BPBD juga bekerja sama dengan aparat kelurahan dan kecamatan setempat untuk memastikan distribusi bantuan berjalan lancar. Penyediaan kebutuhan dasar bagi warga terdampak menjadi prioritas utama agar kondisi pengungsi tetap terjaga selama masa darurat.

Pemerintah daerah menargetkan agar genangan dapat surut dalam waktu relatif cepat, seiring dengan menurunnya intensitas hujan dan optimalisasi sarana pengendalian air. Masyarakat pun di imbau untuk tetap waspada, berhati-hati, dan mengikuti arahan petugas demi mengurangi risiko yang mungkin timbul akibat banjir lanjutan.

Pentingnya Kesiapsiagaan Menghadapi Banjir Perkotaan

Peristiwa banjir yang kembali terjadi di DKI Jakarta menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan penguatan sistem penanggulangan bencana di wilayah perkotaan. Kombinasi antara faktor cuaca ekstrem, kepadatan penduduk, dan keterbatasan ruang terbuka hijau menjadi tantangan yang memerlukan penanganan berkelanjutan dan terintegrasi.

Upaya mitigasi, peningkatan kesadaran masyarakat, serta perbaikan infrastruktur drainase menjadi langkah strategis dalam mengurangi dampak banjir di masa mendatang. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan masyarakat, risiko banjir di harapkan dapat di tekan secara lebih efektif.