Harga emas global – menunjukkan tekanan menjelang akhir tahun 2025. Sentimen pasar cenderung berhati-hati akibat aksi ambil untung yang dilakukan investor. Kondisi ini muncul seiring mendekatnya pergantian tahun menuju 2026. Meski demikian, tekanan tersebut tidak berlangsung lama.
Pada perdagangan terakhir pekan sekaligus awal tahun 2026, emas mulai memperlihatkan pemulihan. Harga ditutup menguat di level US$ 4.329,89 per troy ons. Kenaikan harian tercatat sebesar 0,37 persen. Namun secara mingguan, harga emas masih mencatatkan penurunan sekitar 4,47 persen.
Pergerakan tersebut mencerminkan adanya koreksi jangka pendek. Di sisi lain, fundamental pasar emas tetap dinilai kuat.
Tekanan Profit Taking Menjelang Tahun Baru
Aksi ambil untung menjadi faktor utama pelemahan harga emas pada awal pekan. Investor memilih mengamankan keuntungan setelah reli signifikan dalam beberapa hari sebelumnya. Akibatnya, tren penguatan emas sempat terhenti.
Sebelumnya, emas berhasil menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran US$ 4.549,71 per troy ons. Level tersebut mendorong investor untuk merealisasikan keuntungan. Tekanan jual pun tidak terhindarkan.
Tidak hanya emas yang mengalami koreksi. Perak dan logam mulia lainnya juga mencatatkan penurunan setelah mencetak harga tertinggi baru. Kondisi ini menunjukkan bahwa koreksi bersifat menyeluruh di pasar logam mulia.
Namun demikian, koreksi tersebut masih tergolong sehat dalam siklus pasar komoditas.
Kinerja Emas dan Perak Sepanjang 2025
Secara tahunan, emas mencatatkan kinerja yang sangat solid. Sepanjang 2025, harga emas melonjak sekitar 65 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh berbagai faktor fundamental yang saling berkaitan.
Sementara itu, perak mencatatkan performa yang lebih agresif. Harga perak melonjak hingga 147 persen dalam periode yang sama. Selain faktor investasi, peningkatan permintaan industri turut berperan besar.
Status perak sebagai mineral kritis juga memperkuat daya tariknya. Keterbatasan pasokan global semakin menambah tekanan kenaikan harga. Oleh karena itu, minat investor terhadap perak meningkat signifikan.

Foto: Emas. (Dok. Pixabay)
Kebijakan Moneter AS Menopang Harga Emas
Selanjutnya, arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi penopang utama harga emas. The Federal Reserve memangkas suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang 2025. Kebijakan ini menurunkan biaya peluang dalam memegang aset tanpa imbal hasil.
Dengan suku bunga yang lebih rendah, emas menjadi lebih menarik. Selain itu, pelemahan imbal hasil aset keuangan turut mengalihkan arus dana ke logam mulia.
Pasar juga mulai mengantisipasi potensi pemangkasan suku bunga lanjutan pada 2026. Ekspektasi tersebut memperkuat sentimen positif terhadap emas dalam jangka menengah.
Pembelian Bank Sentral Perkuat Fundamental
Di sisi lain, pembelian emas oleh bank sentral global terus berlanjut. Sejumlah negara berkembang aktif menambah cadangan emas. Langkah ini dilakukan sebagai strategi diversifikasi aset.
Ketergantungan terhadap dolar AS secara perlahan di kurangi. Akibatnya, permintaan emas dari sektor resmi meningkat. Kondisi ini memberikan dukungan struktural terhadap harga emas.
Selain itu, pembelian bank sentral bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, dampaknya lebih stabil di bandingkan permintaan spekulatif.
Faktor Geopolitik dan Aset Safe Haven
Sementara itu, ketegangan geopolitik global masih menjadi faktor pendukung harga emas. Konflik yang berlangsung di Eropa Timur dan Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian pasar.
Situasi tersebut mendorong investor mencari aset aman. Emas kembali berperan sebagai instrumen lindung nilai. Selain emas, perak, platinum, dan paladium juga mendapat dampak positif.
Isu lain seperti risiko tarif perdagangan dan tingginya utang Amerika Serikat turut menambah kekhawatiran pasar. Akibatnya, minat terhadap aset safe haven tetap terjaga.
Prospek Harga Emas di Awal 2026
Memasuki awal 2026, prospek harga emas di nilai tetap konstruktif. Meskipun volatilitas jangka pendek masih mungkin terjadi, arah jangka menengah cenderung positif.
Kombinasi kebijakan moneter longgar, pembelian bank sentral, serta ketidakpastian global menjadi faktor utama pendukung harga. Oleh karena itu, emas di perkirakan tetap menjadi aset unggulan di tengah dinamika ekonomi global.