All England Open merupakan turnamen bulutangkis tertua di dunia yang masih bertahan hingga saat ini. Kejuaraan ini pertama kali di selenggarakan di Inggris pada tahun 1899. Sejak awal kemunculannya, All England telah menjadi simbol prestise dalam dunia bulutangkis internasional.

Pada fase awal penyelenggaraan, pertandingan hanya mempertandingkan nomor ganda. Kondisi tersebut mencerminkan perkembangan awal olahraga bulutangkis yang masih terbatas pada format tertentu. Namun demikian, perubahan mulai dilakukan seiring meningkatnya minat dan kualitas pemain. Nomor tunggal kemudian di perkenalkan pada edisi berikutnya. Sejak saat itu, All England terus menghadirkan berbagai kategori pertandingan secara lengkap.

Selain format, sistem kompetisi All England juga mengalami evolusi. Pada tahun 2007, turnamen ini masuk dalam rangkaian Super Series. Kemudian, statusnya meningkat menjadi Super Series Premier pada 2011. Oleh karena itu, ketika sistem BWF World Tour di berlakukan, All England di tetapkan sebagai turnamen Super 1000 sejak 2018. Penetapan ini semakin memperkuat posisinya sebagai ajang elite dunia.

Peran All England dalam Perkembangan Bulutangkis Dunia

All England tidak hanya berfungsi sebagai turnamen tahunan. Lebih dari itu, ajang ini menjadi panggung utama bagi lahirnya pemain-pemain legendaris. Banyak atlet menggunakan All England sebagai tolok ukur kualitas dan konsistensi permainan mereka.

Di sisi lain, kemenangan di All England sering dianggap setara dengan pencapaian besar dalam karier seorang pebulutangkis. Hal ini di sebabkan oleh tingginya tingkat persaingan serta panjangnya sejarah turnamen. Oleh sebab itu, gelar juara All England memiliki nilai simbolik yang kuat di mata atlet dan penggemar.

Selain menjadi ajang kompetisi, All England juga berperan dalam membentuk standar profesionalisme bulutangkis internasional. Turnamen ini mendorong peningkatan kualitas teknik, strategi, serta daya tahan mental pemain. Dengan demikian, pengaruhnya terasa hingga ke berbagai kejuaraan lain di level dunia.

Turnamen All England sebagai kejuaraan bulutangkis tertua di dunia

Daftar pemain dengan gelar juara All England terbanyak. (Foto: Getty Images/Shi Tang)

Dominasi Pemain Legendaris Sepanjang Masa

Sepanjang sejarahnya, All England mencatat sejumlah atlet dengan jumlah gelar yang sangat dominan. Salah satu nama paling menonjol adalah George Alan Thomas. Ia berhasil meraih total 21 gelar dalam rentang waktu lebih dari dua dekade. Keunggulan Thomas terlihat dari kemampuannya bersaing di berbagai nomor pertandingan.

Selain Thomas, Frank Devlin juga mencatatkan prestasi luar biasa. Pebulutangkis asal Irlandia ini mengoleksi 18 gelar sepanjang kariernya. Konsistensi menjadi faktor utama keberhasilannya. Bahkan, ia sempat meraih gelar secara beruntun pada akhir 1920-an.

Sementara itu, sektor putri juga menunjukkan dominasi yang kuat. Judy Devlin berhasil mengumpulkan 17 gelar, jumlah yang sama dengan Meriel Lucas. Keberhasilan ini membuktikan bahwa persaingan di All England sejak awal melibatkan atlet putra dan putri secara seimbang.

Daftar Atlet dengan Gelar All England Terbanyak

Beberapa atlet lain juga mencatatkan pencapaian signifikan dalam sejarah All England. Finn Kobbero meraih 15 gelar, sementara Betty Uber mengoleksi 13 gelar. Tonny Ahm menambah daftar legenda dengan 12 gelar. Selain itu, sejumlah pemain seperti Erland Kops, Gillian Gilks, dan Gao Ling masing-masing meraih 11 gelar. Data tersebut menunjukkan konsistensi performa lintas generasi.

Kesimpulan

Sebagai turnamen tertua, All England memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Turnamen ini tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar, tetapi juga bagian penting dari perkembangan bulutangkis dunia. Oleh karena itu, setiap edisi All England selalu memiliki daya tarik tersendiri. Keberhasilan para atlet legendaris di turnamen ini menjadi bukti bahwa All England akan terus dikenang sebagai simbol prestise dan tradisi dalam olahraga bulutangkis.