Bursa Efek Indonesia (BEI) – mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara aktivitas perdagangan saham setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan hingga melampaui batas 8 persen. Kebijakan trading halt ini di terapkan selama dua hari berturut-turut sebagai bentuk upaya stabilisasi pasar di tengah tekanan jual yang sangat tinggi. Penurunan IHSG tersebut mencerminkan kondisi pasar modal yang tengah mengalami guncangan serius dan memicu kekhawatiran luas, baik di kalangan investor maupun masyarakat umum.
Sejak pembukaan perdagangan, IHSG langsung menunjukkan tren melemah akibat dominasi aksi jual. Tekanan tersebut terus berlanjut hingga indeks mengalami koreksi lebih dari 10 persen dalam waktu singkat. Kondisi ini mengindikasikan menurunnya kepercayaan pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dan iklim investasi nasional dalam jangka pendek.
Dampak Penurunan IHSG terhadap Perekonomian Nasional
Merosotnya IHSG tidak hanya berdampak pada investor pasar modal, tetapi juga berpotensi memengaruhi perekonomian secara lebih luas. Penurunan indeks saham sering kali menjadi indikator awal memburuknya sentimen ekonomi dan dapat menurunkan tingkat kepercayaan dunia usaha. Ketika pasar saham mengalami tekanan berat, sektor keuangan, khususnya perbankan, cenderung mengambil sikap lebih konservatif dalam menyalurkan kredit.
Sikap kehati-hatian perbankan ini dapat berdampak langsung pada aktivitas konsumsi dan investasi masyarakat. Konsumen umumnya akan menahan belanja, sementara pelaku usaha menunda ekspansi akibat ketidakpastian ekonomi. Dalam jangka menengah, kondisi ini berpotensi memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional apabila tidak diimbangi dengan kebijakan penyangga yang efektif.
Risiko Capital Outflow dan Tekanan terhadap Nilai Tukar
Salah satu dampak lanjutan yang patut di waspadai dari penurunan IHSG adalah potensi terjadinya arus keluar modal asing (capital outflow). Ketika pasar saham terus melemah, investor asing cenderung menarik dananya untuk menghindari risiko yang lebih besar. Arus keluar modal ini dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Meskipun demikian, dalam kondisi tertentu, pelemahan nilai tukar rupiah dapat tertahan oleh dinamika global, seperti melemahnya mata uang dolar Amerika Serikat. Situasi ini membuat tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya terasa. Namun, risiko tersebut tetap perlu di antisipasi karena perubahan sentimen global dapat terjadi secara cepat dan tidak terduga.

IHSG di tutup melemah 7,35 persen ke level Rp 8.320,56 pada perdagangan Rabu (28/1/2026)
Faktor Domestik sebagai Pemicu Anjloknya IHSG
Berbeda dengan krisis pasar modal yang di picu oleh faktor eksternal, penurunan IHSG kali ini di nilai lebih di sebabkan oleh persoalan dalam negeri. Beberapa isu struktural menjadi perhatian serius pelaku pasar, mulai dari transparansi kebijakan hingga kondisi fiskal negara. Keluhan dari lembaga pengelola indeks global terkait aspek transparansi turut memperburuk persepsi investor terhadap pasar Indonesia.
Selain itu, kebijakan aneksasi izin terhadap sejumlah perusahaan serta pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mendekati ambang batas turut menambah sentimen negatif. Kombinasi faktor-faktor tersebut memperlihatkan bahwa fundamental ekonomi sedang berada dalam kondisi yang relatif rapuh, sehingga pasar menjadi sangat sensitif terhadap isu teknis maupun kebijakan.
Optimisme Pemerintah terhadap Prospek IHSG
Di tengah tekanan pasar yang kuat, pemerintah tetap menunjukkan sikap optimistis terhadap prospek jangka panjang IHSG. Keyakinan tersebut di dasarkan pada pandangan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup solid untuk menopang pemulihan pasar modal. Pemerintah menilai bahwa gejolak yang terjadi bersifat sementara dan akan mereda seiring dengan stabilisasi sentimen investor.
Upaya perbaikan kinerja institusi penerimaan negara, seperti otoritas perpajakan dan kepabeanan, juga menjadi bagian dari strategi penguatan ekonomi. Optimalisasi penerimaan negara di harapkan mampu menjaga keberlanjutan fiskal serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil. Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah percaya bahwa pasar saham akan kembali menemukan momentumnya dalam jangka menengah hingga panjang.
Kesimpulan Umum atas Kondisi Pasar Modal
Penurunan tajam IHSG dan kebijakan trading halt yang di terapkan BEI mencerminkan tingginya volatilitas pasar modal Indonesia saat ini. Kondisi tersebut menjadi peringatan penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat fundamental ekonomi, meningkatkan transparansi kebijakan, serta menjaga kepercayaan investor. Dengan respons kebijakan yang tepat dan koordinasi yang baik antar lembaga, tekanan pasar di harapkan dapat dikelola secara efektif tanpa menimbulkan dampak berkepanjangan terhadap perekonomian nasional.