Keputusan Manchester United memecat Ruben Amorim pada 5 Januari 2026 menandai babak baru dalam di namika klub. Langkah tersebut tidak diambil secara tiba-tiba. Sebaliknya, keputusan ini merupakan akumulasi dari performa yang tidak konsisten serta hubungan kerja yang memburuk antara pelatih dan manajemen klub.

Sebagai klub dengan ambisi besar, Manchester United menuntut hasil instan. Oleh karena itu, kegagalan mempertahankan tren positif langsung mendapat sorotan. Amorim, yang sebelumnya di proyeksikan membawa pendekatan taktis modern, justru kesulitan menjaga stabilitas tim.

Penurunan Performa sebagai Faktor Utama

Dalam lima laga terakhir Liga Inggris, Manchester United hanya mencatat satu kemenangan. Sementara itu, tiga pertandingan berakhir imbang dan satu lainnya berujung kekalahan. Statistik tersebut jelas tidak sejalan dengan target klub untuk bersaing di papan atas.

Puncak tekanan terjadi saat United ditahan imbang 1-1 oleh Leeds United. Hasil tersebut memperpanjang catatan negatif tim. Selain itu, kegagalan meraih poin penuh di kandang sendiri memperburuk persepsi publik terhadap kepemimpinan Amorim.

Akibatnya, manajemen klub mulai mempertanyakan efektivitas pendekatan taktis yang di terapkan. Situasi ini semakin mempersempit ruang gerak sang pelatih.

Ketegangan Internal dalam Kebijakan Transfer

Di luar lapangan, persoalan lain muncul dari kebijakan transfer pemain. Pada bursa transfer musim panas 2025, klub menginvestasikan lebih dari 200 juta poundsterling. Dana tersebut digunakan untuk mendatangkan empat pemain baru.

Namun demikian, besarnya anggaran tidak serta-merta menghasilkan dampak signifikan. Amorim merasa arah rekrutmen tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, muncul ketegangan antara pelatih dan petinggi klub.

Menurut berbagai laporan, komunikasi yang tidak selaras menjadi pemicu utama konflik internal. Kondisi ini memperburuk situasi yang sudah rapuh akibat hasil pertandingan.

Pemecatan Ruben Amorim dari Manchester United akibat penurunan performa tim dan konflik manajerial

Pelatih kepala Manchester United, Ruben Amorim

Perbedaan Pandangan soal Lini Depan

Salah satu isu paling krusial berkaitan dengan perekrutan Benjamin Sesko. Amorim di kabarkan tidak menjadikan pemain tersebut sebagai pilihan utama. Di sisi lain, manajemen klub tetap melanjutkan transfer tersebut.

Sebagai alternatif, Amorim lebih menginginkan Ollie Watkins dari Aston Villa. Alasannya cukup jelas. Watkins telah terbukti konsisten di Liga Inggris. Selain itu, ia memiliki pengalaman menghadapi tekanan kompetisi tingkat tinggi.

Sebaliknya, Sesko harus beradaptasi dengan intensitas permainan yang jauh berbeda. Proses adaptasi ini ternyata tidak berjalan mulus.

Dampak Performa Individu terhadap Tim

Hingga pertengahan musim, kontribusi Sesko tergolong minim. Ia hanya mencatat dua gol dan satu assist. Angka tersebut jauh dari ekspektasi awal klub maupun pendukung. Sementara itu, Watkins justru menunjukkan performa impresif bersama Aston Villa. Ia kembali produktif mencetak gol.

Perbandingan ini memperkuat argumen Amorim terkait kebutuhannya di lini depan.Lebih jauh lagi, kegagalan Sesko memanfaatkan peluang emas saat melawan Leeds menjadi sorotan. Momen tersebut di nilai krusial. Akibatnya, hasil imbang tidak terhindarkan.

Evaluasi Rekrutan Baru Manchester United

Jika di bandingkan dengan pemain baru lainnya, performa Sesko di nilai paling mengecewakan. Matheus Cunha dan Bryan Mbeumo menunjukkan kontribusi yang lebih stabil. Selain itu, kiper Senne Lammens memberi rasa aman di sektor pertahanan.

Ketimpangan kontribusi ini menimbulkan pertanyaan terkait perencanaan transfer klub. Dengan kata lain, investasi besar tidak sepenuhnya di iringi perencanaan teknis yang matang.

Kesimpulan

Pemecatan Ruben Amorim mencerminkan kegagalan sinkronisasi antara visi pelatih dan kebijakan manajemen. Hasil di lapangan yang tidak memuaskan mempercepat proses tersebut. Di sisi lain, konflik transfer memperburuk situasi internal klub.

Oleh karena itu, Manchester United perlu melakukan evaluasi menyeluruh. Keselarasan strategi teknis dan manajerial menjadi kunci utama. Tanpa hal tersebut, pergantian pelatih berpotensi kembali terjadi di masa mendatang.