Tradisi Kenduri Udan Dawet – kembali digelar masyarakat Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, sebagai bagian dari warisan budaya yang terus dipertahankan hingga sekarang. Ritual tahunan tersebut menjadi sarana warga untuk memanjatkan doa kepada Tuhan agar hujan segera turun setelah kemarau panjang menyebabkan ketersediaan air semakin terbatas.
Masyarakat Banyuanyar mengadakan kegiatan tersebut pada Jumat (18/9/2026). Ratusan warga ikut terlibat dengan membawa berbagai perlengkapan kenduri menuju Sendang Manderejo, salah satu sumber air yang berada di desa tersebut.
Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, menjelaskan bahwa masyarakat telah menjalankan tradisi ini secara turun-temurun. Para pendahulu mereka mewariskan ritual tersebut dan generasi berikutnya tetap menjaganya sebagai bagian dari kebudayaan lokal.
Setiap tahun, warga mengadakan kenduri pada Jumat yang jatuh dalam mongso kapat atau musim keempat berdasarkan penanggalan Jawa. Periode tersebut biasanya bertepatan dengan musim kemarau. Pada saat yang sama, masyarakat kerap menghadapi berkurangnya persediaan air.
Kirab Gunungan Mengawali Tradisi Kenduri Udan Dawet
Rangkaian acara bermula dengan kirab yang melibatkan masyarakat setempat. Warga membawa gunungan berisi dawet, buah, serta berbagai jenis sayuran menuju Sendang Manderejo.
Selain gunungan, masyarakat membawa ambengan atau hidangan kenduri. Isinya antara lain nasi tumpeng, ingkung ayam, lauk-pauk, sayuran, hingga jajanan pasar. Warga berjalan bersama dari kawasan permukiman menuju sumber air yang menjadi pusat pelaksanaan tradisi.
Setelah tiba di sendang, mereka menempatkan seluruh hidangan di sekitar lokasi. Tokoh agama kemudian memimpin doa bersama yang diikuti masyarakat.
Melalui doa tersebut, warga berharap musim kemarau segera berakhir dan hujan kembali membasahi wilayah Banyuanyar. Masyarakat juga memohon agar hujan yang datang memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari, pertanian, serta peternakan.
Puncak ritual berlangsung setelah doa selesai. Warga secara bersama-sama menuangkan dawet ke area sendang sembari menyerukan “udan buyut”.
Dawet Menjadi Simbol Kemakmuran
Pemilihan dawet dalam tradisi tersebut memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Banyuanyar. Minuman tradisional itu terdiri dari beberapa bahan, seperti cendol, santan, dan gula jawa.
Menurut Komarudin, berbagai bahan tersebut melambangkan kenikmatan sekaligus kemakmuran. Karena itu, dawet menjadi bagian penting dalam ritual permohonan hujan yang terus masyarakat pertahankan.
Warga berharap doa yang mereka panjatkan melalui kenduri membawa keberkahan. Turunnya hujan sangat mereka nantikan karena air memiliki peran penting untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, terutama sektor pertanian dan peternakan.
Harapan tersebut semakin besar karena musim kemarau telah membuat pasokan air di desa semakin berkurang.

Suasana kenduri udan dawet, tradisi untuk meminta hujan yang digelar warga Desa Banyuanyar, Ampel, Boyolali, Jumat (18/9/2026).
Kemarau Membuat Warga Kekurangan Air
Kondisi sumber air di Desa Banyuanyar mulai terdampak musim kemarau. Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat umumnya mengandalkan pasokan PDAM dan sumur gali.
Namun, persediaan air dari sumur juga terus menyusut. Situasi ini membuat sebagian masyarakat harus mencari sumber tambahan agar kebutuhan air tetap terpenuhi.
Persoalan tersebut cukup terasa karena peternakan menjadi salah satu kegiatan ekonomi utama masyarakat Banyuanyar. Banyak warga memelihara sapi perah yang membutuhkan air dalam jumlah besar setiap hari.
Akibatnya, sebagian peternak harus membeli pasokan air dari truk tangki swasta. Air tersebut terutama mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan minum ternak. Sementara itu, beberapa warga masih dapat menggunakan sumur untuk kebutuhan rumah tangga.
Salah seorang warga, Siti Aminah, mengatakan masyarakat berharap hujan segera turun dan membawa manfaat bagi desa. Menurutnya, pasokan dari jaringan air yang tersedia belum selalu mampu mencukupi seluruh kebutuhan warga selama musim kemarau.
Untuk mendapatkan tambahan air, masyarakat harus mengeluarkan biaya sendiri. Satu tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter dijual dengan harga kurang lebih Rp120.000 setelah sampai di Desa Banyuanyar.
Warga Bergotong Royong Menyiapkan Kenduri
Pelaksanaan tradisi juga menunjukkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat. Warga, termasuk kelompok ibu-ibu, menyiapkan berbagai kebutuhan acara sejak dini hari.
Bella, salah seorang peserta kenduri, mengatakan para ibu mulai memasak sekitar pukul 02.30 WIB. Mereka menyiapkan nasi tumpeng, ingkung ayam, sayuran, dawet, serta beragam jajanan pasar untuk dibawa ke lokasi.
Seluruh hidangan tersebut kemudian menjadi bagian dari kenduri bersama di Sendang Manderejo.
Bagi masyarakat Banyuanyar, kenduri udan dawet tidak hanya menjadi ritual meminta hujan. Tradisi tersebut sekaligus menjadi cara warga menjaga peninggalan budaya para pendahulu, memperkuat kebersamaan, serta mengingat pentingnya sumber air bagi kehidupan.
Di tengah kemarau yang menyebabkan persediaan air semakin terbatas, masyarakat terus memanjatkan harapan agar hujan segera turun. Mereka berharap datangnya air dari langit dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, menjaga keberlangsungan peternakan, serta mendukung kegiatan pertanian di Desa Banyuanyar.