Karhutla Kalimantan – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan membawa dampak besar terhadap kehidupan satwa liar. Orangutan menjadi salah satu satwa yang menghadapi ancaman serius karena kebakaran merusak habitat, menghilangkan sumber makanan, sekaligus menghasilkan asap berbahaya bagi sistem pernapasan.
Ancaman tersebut kembali menjadi perhatian setelah seekor orangutan jantan bernama Sampurna di temukan dalam kondisi lemah di kawasan perkebunan kelapa sawit di Ketapang, Kalimantan Barat. Saat di temukan pada Minggu (30/9/2026), orangutan tersebut juga mengalami masalah pada sistem pernapasan.
Tim dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat kemudian mengevakuasi Sampurna untuk mendapatkan pertolongan. Tim telah berupaya memberikan penanganan, tetapi kondisi orangutan tersebut tidak dapat di selamatkan. Sampurna akhirnya mati pada pukul 15.20 WIB pada hari yang sama.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan pepohonan. Kebakaran juga menciptakan rangkaian persoalan baru bagi satwa yang bergantung langsung pada ekosistem hutan.
Karhutla Merusak Sumber Makanan Orangutan
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, menjelaskan bahwa kebakaran hutan memberikan ancaman besar terhadap kelangsungan hidup orangutan.
Vegetasi hutan mempunyai peran penting karena menyediakan makanan sekaligus tempat hidup bagi primata tersebut. Orangutan menggunakan pepohonan untuk berpindah, beristirahat, mencari makanan, hingga membangun sarang.
Ketika api membakar kawasan hutan, satwa kehilangan berbagai tumbuhan yang sebelumnya menjadi sumber pakan. Pada saat bersamaan, kebakaran juga menghancurkan pohon yang menjadi tempat orangutan menjalankan sebagian besar aktivitasnya.
Kerusakan tersebut kemudian memengaruhi ruang jelajah atau home range orangutan. Mereka harus meninggalkan wilayah yang sebelumnya menyediakan makanan dan tempat berlindung untuk mencari kawasan lain yang lebih aman.
Orangutan Terpaksa Keluar dari Habitat
Hilangnya vegetasi akibat karhutla dapat mendorong orangutan turun dari pepohonan dan bergerak melalui permukaan tanah. Situasi semakin sulit ketika kebakaran meluas dan menyisakan sedikit sumber makanan.
Menurut Wisnu, kondisi semacam itu dapat membuat orangutan mendekati kebun masyarakat maupun kawasan permukiman. Satwa akan mencari sumber pakan baru setelah habitat alaminya tidak lagi mampu menyediakan makanan dalam jumlah memadai.
Pergerakan orangutan menuju kawasan yang di kelola manusia juga menimbulkan risiko baru. Selain menghadapi kelaparan dan kekurangan cairan, orangutan berpotensi mengalami luka akibat api.
Di sisi lain, pertemuan antara orangutan dan manusia dapat meningkatkan peluang terjadinya konflik. Oleh karena itu, kerusakan habitat memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar berkurangnya luas kawasan hutan.

Seekor orang utan jantan dewasa ditemukan dalam kondisi lemas dan tidak sadarkan diri di sekitar perkebunan sawit milik warga di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), Minggu (30/8/2026).
Asap Karhutla Mengancam Sistem Pernapasan
Ancaman terhadap orangutan juga berasal dari asap yang muncul selama kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran, terutama pada kawasan gambut, dapat menghasilkan udara yang mengandung karbon monoksida dan berbagai zat berbahaya.
Paparan udara berkualitas buruk dalam jangka waktu tertentu berpotensi mengganggu sistem pernapasan. Wisnu menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat memicu iritasi saluran pernapasan, infeksi, hingga bronkitis.
Dalam kondisi yang lebih serius, paparan asap juga berpotensi menyebabkan hipoksia. Kondisi ini terjadi ketika jaringan tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen dalam jumlah yang cukup.
Gangguan pernapasan dapat membuat tubuh semakin lemah. Gejalanya juga dapat berkembang menjadi muntah, gangguan kesadaran hingga pingsan. Apabila kondisi berat berlangsung tanpa pertolongan yang memadai, risiko kematian akan semakin besar.
Karena itu, karhutla perlu di lihat bukan hanya sebagai persoalan lingkungan. Kebakaran hutan juga dapat berkembang menjadi masalah kesehatan bagi berbagai jenis satwa yang hidup di kawasan terdampak.
Jumlah Orangutan Terdampak Bisa Lebih Besar
Wisnu juga menilai jumlah orangutan yang menjadi korban karhutla berpotensi lebih banyak daripada angka yang berhasil tercatat.
Selama ini, petugas lebih mudah menemukan satwa yang bergerak mendekati jalan, perkebunan ataupun permukiman. Sebaliknya, petugas menghadapi tantangan lebih besar untuk mengetahui kondisi setiap orangutan yang masih berada jauh di dalam kawasan hutan dan lahan gambut.
Akibatnya, data yang tersedia kemungkinan hanya menggambarkan sebagian dari dampak sebenarnya. Orangutan yang mati atau mengalami gangguan kesehatan di lokasi yang sulit di jangkau belum tentu masuk dalam pencatatan.
Situasi tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya pemantauan habitat setelah kebakaran terjadi. Upaya konservasi tidak cukup hanya berfokus pada satwa yang berhasil di temukan dan di evakuasi.
Perlindungan Habitat Jadi Kunci Menyelamatkan Orangutan
Pencegahan karhutla menjadi langkah penting untuk menjaga populasi orangutan dalam jangka panjang. Menurut Wisnu, upaya perlindungan perlu di mulai dari habitat alami satwa liar.
Sejumlah langkah dapat dilakukan, mulai dari mencegah penggunaan api dalam pembukaan lahan hingga menghentikan konversi hutan alam. Pengelola kawasan juga perlu memperkuat zona penyangga bebas api untuk menekan risiko kebakaran menyebar ke habitat orangutan.
Selain itu, pembangunan koridor habitat dapat membantu orangutan berpindah dengan lebih aman di antara kawasan hutan. Pemulihan tata air pada lahan gambut juga penting karena gambut yang terlalu kering memiliki risiko kebakaran lebih tinggi.
Rehabilitasi vegetasi kemudian menjadi bagian penting dalam pemulihan kawasan yang telah mengalami kerusakan. Pohon dan tumbuhan yang kembali tumbuh dapat menyediakan sumber makanan, ruang jelajah, serta lokasi bersarang bagi orangutan.
Dengan demikian, penanganan karhutla perlu menempatkan perlindungan ekosistem sebagai prioritas utama. Evakuasi orangutan ketika kebakaran sudah meluas memang penting, tetapi pencegahan menawarkan perlindungan yang jauh lebih besar.
Menjaga hutan tetap lestari sekaligus memperkuat sistem pencegahan kebakaran dapat mengurangi risiko hilangnya habitat dan kematian satwa. Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan hilangnya tutupan hutan, tetapi juga ancaman langsung terhadap kesehatan dan keberlangsungan hidup orangutan Kalimantan.