Kunjungan tersebut berlangsung ketika hubungan Washington dan Teheran masih berada dalam situasi yang tegang. Qatar berusaha mengambil peran sebagai mediator untuk mencari jalan keluar, terutama ketika komunikasi langsung antara kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali dibuka.
Namun, langkah diplomatik yang dilakukan Doha menghadapi tantangan setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa pemerintahannya saat ini tidak berniat melakukan pembicaraan dengan Iran.
Dalam keterangannya di Oval Office, Trump menyatakan Washington tidak sedang membangun komunikasi langsung ataupun merencanakan pertemuan dengan pihak Teheran.
“Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami tidak berusaha untuk bertemu atau melakukan hal serupa,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus di hadapi Qatar dalam menjalankan perannya sebagai mediator. Meski demikian, Doha tetap melanjutkan pendekatan diplomatik dengan para pejabat Iran.
Qatar Berupaya Membuka Kembali Jalur Diplomasi
Selama berada di Teheran, Al Thani melakukan sejumlah pertemuan dengan pejabat penting Iran. Pembicaraan tersebut antara lain melibatkan Mohammad Baqer Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Pertemuan itu menjadi bagian dari usaha Qatar untuk mencari ruang kompromi di tengah hubungan AS-Iran yang masih membeku.
Selain membahas kemungkinan kembalinya jalur diplomatik, perhatian Qatar juga tertuju pada keamanan pelayaran regional. Melalui platform X, Al Thani menyoroti pentingnya memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Kawasan tersebut memiliki posisi strategis bagi aktivitas pelayaran dan distribusi energi internasional. Karena itu, ketegangan yang terjadi di sekitar Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap negara-negara di kawasan maupun aktivitas perdagangan global.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut salah satu gagasan yang di bahas adalah pembentukan koridor pelayaran sementara di antara Iran dan Oman. Selain itu, terdapat pembicaraan mengenai kemungkinan proyek bersama untuk membersihkan ranjau.
Upaya tersebut di harapkan dapat menciptakan jalur pelayaran yang lebih aman sekaligus mengurangi risiko terjadinya gangguan terhadap kapal-kapal yang melintas.
Iran dan Oman Bahas Pengelolaan Lalu Lintas Selat Hormuz
Di tengah proses diplomasi tersebut, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyampaikan adanya kesepakatan prinsip dengan Oman mengenai pengaturan lalu lintas di kawasan selat.
Kesepakatan itu juga menyentuh persoalan pembagian pendapatan. Kendati demikian, rincian mekanisme pelaksanaannya masih dalam tahap pembahasan dan belum di umumkan secara lengkap.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai Selat Hormuz tidak hanya melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Negara-negara kawasan, termasuk Qatar dan Oman, juga mengambil peran dalam mencari mekanisme yang dapat menjaga stabilitas jalur pelayaran.
Qatar khususnya berupaya menggunakan pendekatan diplomatik agar ketegangan tidak semakin berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas.

Perdana Menteri Qatar Khalid bin Khalifa bin Abdul Aziz Al Thani menjabat pada Januari 2020.
Iran Ajukan Syarat untuk Pembukaan Penuh Selat Hormuz
Sementara itu, Iran memberikan respons keras terhadap sikap Washington. Di lansir Reuters pada Kamis (27/8/2026), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menyampaikan posisi negaranya ketika bertemu dengan Perdana Menteri Qatar.
Rezaei mengatakan Iran siap memberikan respons apabila Washington melakukan tindakan yang di nilai dapat memperburuk keadaan.
Teheran juga mengajukan sejumlah persyaratan sebelum Selat Hormuz dapat kembali di buka sepenuhnya. Iran meminta penghentian blokade terhadap pelabuhan, pemberian kompensasi, serta pencabutan sanksi.
“Kami tidak memercayai AS. Mereka telah berulang kali mengkhianati diplomasi dan negosiasi,” tegas Rezaei.
Menurut Rezaei, Iran sedang menyusun daftar persyaratan yang lebih terperinci terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Penyusunan tersebut dilakukan setelah adanya permintaan dari pihak-pihak yang berperan sebagai mediator.
Apabila persyaratan yang di ajukan dapat dipenuhi oleh AS, Iran di sebut akan mengizinkan kapal kembali melintas melalui jalur tengah yang telah di tentukan.
Iran Minta Negara Tetangga Tidak Menjadi Basis Serangan AS
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan pesan kepada negara-negara di kawasan terkait meningkatnya ketegangan dengan Washington.
Melalui akun Telegram miliknya, Araghchi meminta negara-negara tetangga untuk tidak memberikan wilayah mereka sebagai basis yang dapat di gunakan Amerika Serikat dalam melancarkan tekanan terhadap Iran.
Seruan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan operasi militer, tetapi juga tindakan ekonomi yang di anggap Teheran dapat merugikan kepentingan Iran.
Di tengah sikap keras kedua pihak, kunjungan Al Thani memperlihatkan bahwa peluang mediasi masih terus di upayakan. Qatar mencoba menjaga ruang diplomasi tetap terbuka meskipun Washington belum menunjukkan keinginan untuk kembali melakukan komunikasi langsung dengan Teheran.
Keberhasilan mediasi pada akhirnya akan sangat bergantung pada kesediaan masing-masing pihak untuk mencari titik temu. Selain hubungan AS-Iran, perkembangan diplomasi tersebut juga akan berpengaruh terhadap keamanan Selat Hormuz dan stabilitas kawasan secara lebih luas.