Sejak pagi, warga dari berbagai kelompok usia mulai berdatangan. Anak-anak, orang dewasa hingga warga lanjut usia berjalan menuju kawasan situs yang berada tidak jauh dari hamparan persawahan. Sebagian tampil menggunakan pakaian bernuansa Sunda, sedangkan warga lainnya mengenakan busana sehari-hari yang rapi.
Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Berbagai makanan yang telah di persiapkan dari rumah turut di bawa menggunakan rantang, kantong maupun wadah lainnya. Hidangan tersebut nantinya di santap bersama setelah rangkaian kegiatan utama selesai.
Merlawu memang memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial masyarakat Wanasigra. Selain menjadi agenda budaya, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul, berdoa, bersyukur sekaligus menjaga hubungan dengan sesama.
Merlawu Rutin Di Laksanakan pada Bulan Rabiul Awal
Masyarakat Wanasigra menggelar Merlawu setiap tahun pada bulan Rabiul Awal, bertepatan dengan momentum peringatan Maulid Nabi. Pusat kegiatan berlangsung di Situs Kabuyutan Gandoang.
Di kawasan tersebut terdapat makam Syekh Padamatan. Masyarakat mengenalnya sebagai salah satu tokoh agama sekaligus sosok yang memiliki peran penting dalam perjalanan Desa Wanasigra.
Karena itulah, Merlawu juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenang para pendahulu. Warga berkumpul untuk memanjatkan doa sekaligus mensyukuri kehidupan yang telah mereka jalani selama setahun terakhir.
Kepala Desa Wanasigra Yudi Wahyudi menjelaskan bahwa rasa syukur menjadi salah satu nilai utama dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Kesempatan berkumpul setiap tahun juga di manfaatkan masyarakat untuk mempererat silaturahmi.
Selain itu, masyarakat memberikan penghormatan kepada para leluhur melalui doa bersama. Syekh Padamatan menjadi salah satu tokoh yang secara khusus di kenang karena kedudukannya dalam sejarah dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat.
Sejumlah Prosesi Digelar Menjelang Puncak Merlawu
Merlawu bukan kegiatan yang hanya berlangsung dalam satu hari. Sebelum acara puncak di laksanakan, masyarakat terlebih dahulu mengikuti beberapa tahapan tradisi.
Salah satunya di kenal sebagai Ngarangki. Melalui kegiatan ini, warga bekerja bersama untuk mengganti pagar di sekitar makam Syekh Padamatan. Gotong royong tersebut sekaligus menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan Kabuyutan Gandoang.
Prosesi lainnya berupa Nyiraman Benda Pusaka yang berlangsung di Bumi Pakuncen. Perawatan terhadap peninggalan lama menjadi bagian dari upaya masyarakat mempertahankan warisan yang telah di terima dari generasi terdahulu.
Rangkaian Merlawu juga memiliki prosesi Nyembah. Dalam tradisi tersebut, perwakilan masyarakat mendatangi pupuhu atau pimpinan Ciamis. Kedatangan mereka sekaligus bertujuan menyampaikan undangan untuk menghadiri pelaksanaan Merlawu.
Menjelang hari puncak, suasana Wanasigra semakin ramai. Warga mengadakan pawai mengelilingi desa sehari sebelumnya. Selain memeriahkan suasana, kegiatan itu menjadi penanda bahwa pelaksanaan Merlawu segera berlangsung.
Warga Berdoa di Makam Syekh Padamatan
Acara utama dimulai dengan kegiatan pembukaan yang di ikuti sambutan dari unsur pemerintah daerah dan pemerintah desa. Setelah agenda tersebut selesai, masyarakat melanjutkan perjalanan menuju makam Syekh Padamatan.
Warga kemudian mengikuti tawasul serta doa bersama di kawasan makam. Ada tata cara yang masih dipertahankan ketika masyarakat memasuki area tersebut.
Sebelum melewati gapura menuju makam, pengunjung di minta melepaskan alas kaki. Kebiasaan itu di jalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat yang memiliki nilai khusus bagi masyarakat Wanasigra.
Doa bersama menjadi kesempatan untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus menyampaikan harapan bagi kehidupan masyarakat. Nilai spiritual tersebut berjalan berdampingan dengan unsur budaya dan sosial yang terdapat dalam Merlawu.
Botram Perkuat Hubungan Antarwarga
Selesainya doa bukan berarti seluruh kegiatan berakhir. Justru setelah meninggalkan kawasan makam, suasana kekeluargaan semakin terlihat.
Makanan yang di bawa sejak pagi mulai di buka. Warga duduk bersama dan menikmati hidangan melalui kegiatan yang di kenal sebagai botram.
Menariknya, makanan tidak hanya di nikmati oleh keluarga yang membawanya. Warga saling menawarkan, membagikan dan bertukar hidangan dengan orang-orang di sekitarnya.
Menurut Yudi, kebiasaan berbagi tersebut sudah melekat dalam pelaksanaan Merlawu. Setiap keluarga membawa makanan sendiri dari rumah sebelum kemudian menikmatinya bersama masyarakat lainnya.
Cara sederhana itu memiliki makna sosial yang cukup kuat. Botram menggambarkan hubungan masyarakat yang di bangun melalui semangat saling berbagi, gotong royong dan kebersamaan.
Pertemuan tersebut juga membuka kesempatan bagi warga untuk berbincang serta kembali menjalin komunikasi dengan kerabat dan tetangga. Karena itu, makanan menjadi bagian yang ikut memperkuat interaksi sosial selama Merlawu berlangsung.

Kebersamaan warga Wanasigra mengikuti Tradisi Merlawu di Situs Kabuyutan Gandoang.
Perantau Pulang Kampung untuk Mengikuti Merlawu
Merlawu ternyata tidak hanya menarik masyarakat yang tinggal di Wanasigra. Warga asal desa tersebut yang sedang merantau ke berbagai daerah juga kerap menyempatkan diri untuk kembali.
Yudi menyebut momentum kepulangan warga tidak terbatas pada perayaan Lebaran. Pelaksanaan Merlawu turut menjadi alasan bagi sejumlah perantau untuk mengunjungi kampung halaman.
Fenomena tersebut membuat tradisi tahunan ini memiliki suasana layaknya momentum pulang kampung. Mereka dapat kembali bertemu dengan keluarga, saudara maupun tetangga setelah sebelumnya tinggal berjauhan.
Kehadiran masyarakat dari perantauan turut menambah keramaian di Situs Kabuyutan Gandoang. Pada saat bersamaan, Merlawu menjadi ruang pertemuan bagi warga yang selama ini mungkin hanya dapat berkomunikasi dari jarak jauh.
Dengan demikian, tradisi tersebut tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Merlawu turut membantu mempertahankan ikatan sosial antara masyarakat yang masih menetap di desa dan mereka yang telah tinggal di daerah lain.
Disbudpora Ciamis Dorong Pelestarian Tradisi Merlawu
Antusiasme masyarakat mendapatkan apresiasi dari Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ciamis Dian Budiyana.
Dian melihat keterlibatan masyarakat dalam Merlawu tetap tinggi dari tahun ke tahun. Bahkan, masyarakat yang datang ke Situs Kabuyutan Gandoang tidak seluruhnya berasal dari Wanasigra.
Pengunjung dari daerah lain turut hadir untuk berziarah ke makam karuhun yang berada di kawasan tersebut. Kondisi itu menunjukkan bahwa Situs Kabuyutan Gandoang mempunyai daya tarik budaya dan sejarah yang melampaui lingkungan desa.
Menurut Dian, Merlawu memiliki sejumlah dimensi penting. Momentum bulan Maulid menjadi kesempatan masyarakat mengadakan syukuran, sementara kegiatan ziarah dan perawatan benda pusaka menjadi bagian dari upaya mempertahankan peninggalan para pendahulu.
Semangat Leluhur Diharapkan Tetap Hidup
Pelestarian tradisi juga di nilai perlu berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai perjuangan generasi terdahulu. Masyarakat tidak cukup hanya mempertahankan bentuk kegiatan, tetapi juga perlu memahami nilai yang melatarbelakanginya.
Syekh Padamatan di pandang sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam perjalanan kawasan Wanasigra. Jejak para pendahulu tersebut menjadi bagian dari sejarah yang masih di kenang masyarakat melalui Merlawu.
Dian berharap semangat yang diwariskan tokoh terdahulu dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat maupun aparatur pemerintah desa. Perjuangan generasi sebelumnya telah menghasilkan berbagai hal yang dapat di nikmati masyarakat sekarang.
Tantangan generasi saat ini adalah melanjutkan warisan tersebut melalui pembangunan dan kegiatan yang memberikan manfaat bagi kehidupan desa. Dengan cara itu, masyarakat sekarang juga dapat meninggalkan sesuatu yang bernilai bagi generasi berikutnya.
Merlawu Menjaga Identitas Masyarakat Wanasigra
Merlawu memperlihatkan bahwa tradisi dapat menjadi ruang pertemuan antara nilai budaya, spiritual dan kehidupan sosial masyarakat. Setiap rangkaian kegiatan memiliki peran dalam mempertahankan hubungan warga dengan sejarah kampung halamannya.
Ngarangki menghidupkan semangat gotong royong, sedangkan perawatan benda pusaka menjadi salah satu cara menjaga peninggalan terdahulu. Tawasul dan ziarah mengingatkan masyarakat terhadap para leluhur, sementara botram memperkuat kebiasaan berbagi di antara warga.
Kepulangan para perantau memberikan dimensi lain dalam tradisi tersebut. Merlawu menjadi momentum yang mempertemukan kembali masyarakat setelah terpisahkan oleh jarak dan aktivitas masing-masing.
Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Wanasigra tetap mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas desa. Merlawu tidak hanya mengajak warga melihat kembali perjalanan masa lalu, tetapi juga mengingatkan pentingnya rasa syukur, gotong royong, silaturahmi dan kepedulian terhadap warisan yang akan di teruskan kepada generasi mendatang.