Aliran air yang datang dengan cepat membawa lumpur, batang kayu, bebatuan, serta berbagai material lainnya. Terjangan tersebut kemudian menghantam permukiman dan sejumlah fasilitas penting di kawasan terdampak. Jalan, jembatan, rumah penduduk, hingga fasilitas pembangkit listrik di laporkan mengalami kerusakan.
Banjir di duga berkaitan dengan meluapnya aliran sungai yang melintasi wilayah pegunungan antara Nepal dan Tibet. Besarnya volume air membuat sejumlah kawasan di sepanjang sungai menghadapi ancaman serius. Kondisi tersebut juga meningkatkan kekhawatiran bahwa jumlah korban dapat bertambah seiring berjalannya proses pencarian.
Otoritas setempat kemudian meminta masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Bhote Koshi, Trishuli, dan Narayani untuk meninggalkan daerah rawan. Warga di arahkan menuju lokasi yang lebih tinggi dan aman guna menghindari kemungkinan datangnya banjir susulan.
Ratusan Wisatawan Dilaporkan Hilang Kontak
Dampak bencana tidak hanya di rasakan penduduk lokal. Banyak wisatawan yang sedang berada di kawasan Himalaya turut kehilangan kontak setelah akses komunikasi dan transportasi terganggu.
Nepal Tourism Board menerima laporan mengenai ratusan wisatawan yang keberadaannya belum dapat di pastikan. Pendataan awal dari sejumlah agen perjalanan mencatat 384 orang sempat di laporkan hilang kontak. Jumlah tersebut terdiri atas 291 warga negara asing serta 93 warga Nepal.
Data mengenai korban kemudian mengalami pembaruan seiring berlangsungnya proses verifikasi. Dalam perkembangan berikutnya, sebanyak 341 wisatawan asing di sebut masih belum di temukan.
Para wisatawan tersebut berasal dari berbagai negara, termasuk India, Amerika Serikat, Inggris, Malaysia, dan Australia. Sejumlah wisatawan India serta masyarakat diaspora India di ketahui sedang melakukan perjalanan ziarah menuju Gunung Kailash di Tibet ketika bencana terjadi.
Tak hanya masyarakat sipil dan wisatawan, sejumlah aparat keamanan juga di laporkan belum di ketahui keberadaannya. Sebanyak 44 personel militer Nepal dan 30 anggota kepolisian termasuk dalam daftar orang yang hilang ketika menjalankan tugas di kawasan terdampak.
Longsoran Es dan Batu Diduga Memicu Banjir
Para peneliti dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menduga bencana tersebut berkaitan dengan longsoran material es dan batu dari kawasan gletser. Fenomena yang di kenal sebagai ice-rock avalanche itu di duga menghambat aliran Sungai Lhende Khola.
Material longsoran kemungkinan membentuk bendungan alami untuk sementara waktu. Ketika bendungan tersebut tidak mampu lagi menahan tekanan air, aliran dalam jumlah besar kemudian menerjang kawasan yang berada di bagian hilir.
Analis geoinformasi ICIMOD, Sarthak Shrestha, menilai longsoran es dan batu kemungkinan terjadi di wilayah Nepal sebelum menghambat aliran Sungai Lhende. Kondisi itu di duga menjadi salah satu faktor yang memicu rangkaian banjir di kawasan perbatasan.
Kerusakan yang di timbulkan terlihat di berbagai lokasi. Kendaraan terseret arus, jembatan mengalami kerusakan, sedangkan sejumlah desa tertutup lumpur. Infrastruktur transportasi pun terganggu sehingga menyulitkan petugas menjangkau beberapa titik terdampak.
Fasilitas Listrik Nepal Ikut Terdampak
Sektor energi menjadi salah satu fasilitas penting yang terkena dampak serius. Sejumlah pembangkit listrik tenaga air dan fasilitas tenaga surya di laporkan mengalami kerusakan akibat terjangan banjir.
Nepal Electricity Authority menyebut kapasitas produksi listrik sekitar 430 megawatt terdampak parah. Kerusakan tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi, terutama di daerah yang bergantung pada fasilitas pembangkit di sekitar kawasan bencana.
Ancaman luapan air juga menjadi perhatian negara tetangga. Pemerintah India meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir di Bihar dan Uttar Pradesh karena aliran sungai dari kawasan Himalaya dapat berdampak hingga wilayah tersebut.

Banjir bandang di Nepal hancurkan permukiman, ratusan turis hilang.
Operasi Pencarian Menghadapi Kendala
Tim kepolisian dan militer Nepal terus di kerahkan untuk mencari korban yang belum di temukan. Namun, kondisi medan pegunungan dan derasnya aliran air membuat operasi penyelamatan tidak mudah dilakukan.
Helikopter yang di kerahkan untuk membantu proses evakuasi sempat mengalami kesulitan mendarat di sekitar Syapru Besi dan Timure. Tingginya debit air serta kondisi kawasan yang rusak membatasi akses menuju sejumlah lokasi.
Di sisi lain, pemerintah China juga meningkatkan respons terhadap bencana di wilayah Tibet. Presiden China Xi Jinping menginstruksikan agar pencarian terhadap korban hilang dilakukan secara maksimal. Penanganan korban luka serta upaya menekan jumlah korban jiwa turut menjadi prioritas dalam operasi darurat.
Warga Saksikan Permukiman Tersapu Banjir
Besarnya dampak bencana terlihat dari kesaksian masyarakat di kawasan terdampak. Administrator Distrik Rasuwa, Narendra Pariyar, menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan besarnya korban jiwa maupun kerugian materi setelah melihat tingkat kerusakan di sejumlah permukiman.
Petugas kesehatan di Rasuwa, Tula Bahadur BK, juga menggambarkan kondisi yang sangat berat. Menurut keterangannya, permukiman di sekitar sungai tersapu arus. Bahkan, lima anggota keluarganya termasuk di antara orang-orang yang belum di temukan.
Sementara itu, seorang guru di Distrik Nuwakot, Suman Chalise, menyaksikan langsung kekuatan arus banjir. Ia melihat sejumlah truk terseret bersama bangunan dan warga ketika air menerjang kawasan tersebut. Skala kerusakan itu di sebut belum pernah ia saksikan sebelumnya.
Pemerintah Nepal selanjutnya meminta masyarakat yang berada di dataran rendah untuk segera menuju wilayah yang lebih aman. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menekankan pentingnya kewaspadaan bagi penduduk yang tinggal di sepanjang aliran sungai karena kondisi masih berisiko.
Perubahan Iklim Tingkatkan Ancaman di Himalaya
Kawasan Himalaya memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir bandang, longsor, serta berbagai bencana yang berkaitan dengan gletser. Perubahan suhu di kawasan pegunungan dapat memengaruhi kestabilan lapisan es sekaligus meningkatkan risiko terbentuknya danau maupun bendungan alami.
Dalam beberapa dekade terakhir, pemanasan di kawasan Himalaya menjadi perhatian para ilmuwan. Peningkatan suhu mempercepat pencairan gletser dan dapat memperbesar potensi terjadinya bencana yang melibatkan air, es, serta material batuan.
Laju kehilangan massa gletser di kawasan tersebut juga di laporkan meningkat sejak awal abad ke-21. Situasi ini membuat pemantauan terhadap sungai, gletser, dan daerah rawan longsor semakin penting, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di lembah serta bantaran sungai.
Hingga proses pencarian berlangsung, aparat Nepal dan China masih berupaya menemukan korban yang belum di ketahui keberadaannya. Prioritas utama saat ini mencakup evakuasi masyarakat dari daerah berbahaya, pencarian korban hilang, penanganan korban luka, serta pemulihan akses menuju kawasan yang terisolasi.
Dengan luasnya wilayah terdampak dan sulitnya medan Himalaya, jumlah korban maupun skala kerusakan masih dapat berubah setelah pendataan lebih menyeluruh dilakukan. Masyarakat di sepanjang jalur sungai pun di minta terus mengikuti peringatan resmi dan menghindari daerah yang berpotensi kembali di terjang banjir.