Industri Robot humanoid – terus berkembang seiring kemajuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Perusahaan teknologi asal China menjadi salah satu kelompok yang aktif mendorong perkembangan tersebut. Namun, robot yang mampu bekerja fleksibel seperti manusia dinilai masih membutuhkan waktu untuk mencapai tahap kematangan.

Pendiri perusahaan robotika Unitree, Wang Xingxing, memperkirakan terobosan besar robot humanoid dapat terjadi dalam rentang dua hingga sepuluh tahun mendatang. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam World Robot Conference (WRC) 2026 di Beijing, China. Pameran teknologi itu berlangsung pada 19-23 Agustus 2026.

Wang menggambarkan perkembangan yang di tunggu tersebut sebagai “momen ChatGPT” untuk robot humanoid. Istilah itu merujuk pada kondisi ketika teknologi robot mengalami lompatan kemampuan dan dapat di gunakan secara luas untuk berbagai pekerjaan.

Menurut perkiraannya, pencapaian tersebut dapat terjadi paling cepat dalam dua hingga tiga tahun. Namun, proses pengembangan teknologi juga mungkin memerlukan waktu lima hingga sepuluh tahun.

Robot Humanoid Ditargetkan Mampu Beradaptasi dengan Lingkungan Baru

Konsep “momen ChatGPT” yang di maksud Wang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan robot bergerak menyerupai manusia. Kemampuan memahami lingkungan dan menjalankan instruksi secara mandiri menjadi faktor yang jauh lebih penting.

Robot humanoid idealnya mampu menyelesaikan sekitar 80 persen pekerjaan di tempat yang sebelumnya tidak pernah di temui. Sebagai contoh, robot dapat masuk ke rumah yang belum pernah di kunjungi dan langsung menjalankan tugas berdasarkan instruksi.

Pengguna cukup memberikan perintah melalui suara ataupun teks. Setelah menerima instruksi, robot di harapkan dapat memahami situasi dan menentukan langkah yang di perlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Target tersebut masih menjadi tantangan besar bagi industri robotika. Wang mengakui robot yang di kembangkan Unitree saat ini belum mampu menandingi tingkat efisiensi tenaga manusia.

Robot juga masih memerlukan pelatihan tambahan ketika menghadapi pekerjaan baru. Kondisi tersebut membuat proyeksi Wang pada 2026 lebih berhati-hati di bandingkan perkiraannya pada tahun sebelumnya.

Industri Robotika China Tumbuh Pesat

Perkembangan robot tidak hanya terlihat dari peningkatan kemampuan teknologinya. Skala industri robotika China juga terus membesar.

WRC 2026 menghadirkan lebih dari 300 peserta pameran. Jumlah tersebut meningkat sekitar 36 persen di bandingkan penyelenggaraan pada tahun sebelumnya. Peserta memamerkan lebih dari 2.000 produk, sementara sekitar 150 produk melakukan debut global dalam acara tersebut.

Perusahaan milik negara China juga ikut mengambil bagian. Sebanyak 49 badan usaha milik negara menghadirkan teknologi mereka melalui 12 demonstrasi penerapan berbeda.

Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi China, Xin Guobin, menyebut industri robotika telah memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan ekonomi dan sosial negara tersebut.

Nilai pendapatan industri robotika China sepanjang 2025 mencapai sekitar 300 miliar yuan atau setara Rp788,7 triliun. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan tahunannya tercatat melampaui 20 persen.

Tren positif berlanjut pada 2026. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, pendapatan sektor robotika mencapai 165,5 miliar yuan atau sekitar Rp435,1 triliun. Angka tersebut tumbuh 24,5 persen di bandingkan periode serupa pada tahun sebelumnya.

Pemerintah China turut memperkuat dukungannya terhadap perkembangan teknologi robot. Dalam WRC 2026, pemerintah memperkenalkan kebijakan bertajuk “Development Initiative on Intelligent Robots for the Positive and for Good”. Inisiatif tersebut di arahkan untuk mendukung perkembangan industri robot cerdas.

Robot humanoid China dipamerkan dalam World Robot Conference 2026 di Beijing

Robot humanoid China SeeLight S1 di sebut mampu mengambil makanan, memanaskannya menggunakan microwave, membersihkan meja makan, hingga melipat pakaian dan menyimpannya ke lemari.

Robot Mulai Bekerja di Gudang hingga Pabrik Ponsel

Pemanfaatan robot di China tidak lagi sebatas demonstrasi teknologi. Sejumlah perusahaan telah menerapkan produknya dalam aktivitas industri sehari-hari.

Robotera, misalnya, memperlihatkan teknologi robot yang di rancang untuk menyortir paket. Robot tersebut telah beroperasi di lebih dari 15 gudang logistik. Jumlah unit yang di gunakan secara keseluruhan telah melampaui 100 robot.

DexForce juga membawa teknologi yang di tujukan untuk kebutuhan manufaktur. Perusahaan tersebut mengembangkan robot yang dapat di tempatkan pada lini perakitan.

Teknologi DexForce bahkan telah di gunakan di fasilitas produksi Lens Technology. Robot membantu menangani proses tertentu dalam perakitan ponsel. Penerapan otomatisasi tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap tenaga manusia untuk pekerjaan berulang dan monoton.

Perwakilan DexForce, Nicole Yang, mengatakan jenis pekerjaan seperti itu sering kurang di minati pekerja pabrik karena sifatnya yang membosankan.

Persaingan Robot Humanoid Semakin Ramai

Sejumlah perusahaan lain ikut menunjukkan perkembangan teknologi mereka dalam WRC 2026. Leju memamerkan robot humanoid yang di arahkan untuk kebutuhan industri. Sementara itu, X Square Robot memperkenalkan teknologi yang berfokus pada otomatisasi aktivitas rumah tangga.

Perkembangan bisnis perusahaan robotika juga semakin menarik perhatian investor. Lumos Robotics dan divisi robotika milik produsen otomotif Chery di laporkan sedang mempertimbangkan rencana penawaran saham perdana atau IPO.

Ketertarikan terhadap ekosistem robotika China turut datang dari perusahaan internasional. Sejumlah petinggi Nvidia mengunjungi WRC 2026. RealSense, perusahaan asal Amerika Serikat yang bergerak di bidang teknologi sistem visi, juga berpartisipasi dalam acara tersebut.

Chief Marketing Officer RealSense, Mike Nielsen, memandang China sebagai pasar penting bagi bisnis perusahaan. Menurutnya, negara tersebut sedang berkembang menjadi salah satu pusat utama teknologi robot humanoid.

Siklus Pengembangan Robot Semakin Singkat

Kecepatan inovasi menjadi salah satu karakter menarik dari industri robotika China. Nielsen menilai siklus pengembangan produknya berlangsung jauh lebih cepat di bandingkan pola industri tradisional.

Sebuah produk robot dapat mengalami pembaruan dalam rentang sekitar enam hingga delapan bulan. Durasi tersebut jauh lebih singkat di bandingkan siklus pengembangan selama tiga hingga empat tahun yang biasa di temukan pada sejumlah sektor teknologi lainnya.

Percepatan inovasi membuka peluang bagi perusahaan untuk memperbaiki kemampuan robot secara lebih cepat. Pada saat yang sama, persaingan antarpengembang juga semakin ketat karena setiap perusahaan harus terus menghadirkan teknologi baru.

Perjalanan menuju robot humanoid yang mampu bekerja secara mandiri masih menghadapi berbagai hambatan. Kemampuan beradaptasi, efisiensi kerja, pemahaman lingkungan, dan kebutuhan pelatihan menjadi sejumlah persoalan yang harus di selesaikan.

Meski demikian, pertumbuhan industri, investasi perusahaan, serta dukungan pemerintah menunjukkan robotika semakin memperoleh posisi penting dalam strategi teknologi China. Jika perkembangan AI dan perangkat keras terus melaju, prediksi mengenai hadirnya “momen ChatGPT” untuk robot humanoid dalam beberapa tahun mendatang berpotensi menjadi babak baru dalam penggunaan robot di kehidupan sehari-hari.