Budaya Osing Di Desa Kemiren, Banyuwangi – tidak sekadar menjadi peninggalan dari generasi terdahulu. Masyarakat masih menjalankan berbagai tradisi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Jejak budaya itu terlihat melalui rumah adat, kesenian, kuliner, upacara tradisional, hingga aktivitas wisata yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Kemiren kini dikenal sebagai salah satu desa wisata adat Osing yang mengandalkan kekayaan budaya sebagai daya tarik utama. Masyarakat mempertahankan berbagai tradisi, seperti Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu. Selain itu, Tari Gandrung, musik tradisional, kuliner khas, serta arsitektur rumah Osing ikut memperkuat identitas desa.
Potensi tersebut turut menarik kedatangan wisatawan. Sepanjang periode 2024 hingga 2026, Kemiren secara konsisten mencatat lebih dari 3.000 kunjungan wisatawan setiap tahun.
Meski demikian, mempertahankan kebudayaan bukan pekerjaan sederhana. Perubahan generasi, perkembangan teknologi, kebutuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan persoalan lingkungan terus memengaruhi kehidupan masyarakat desa.
Dalam situasi tersebut, Muhammad Edi Saputro atau Kang Edai menjadi salah satu sosok yang terlibat dalam pengembangan Kemiren. Sebagai Ketua Desa Wisata Osing sekaligus penggerak Desa Sejahtera Astra (DSA), ia berupaya mempertemukan pelestarian identitas lokal dengan kebutuhan masyarakat untuk berkembang.
Pelestarian Budaya Berjalan Bersama Perekonomian
Keterlibatan Kang Edai dalam pembangunan desa berangkat dari keinginannya melihat Kemiren semakin maju. Berdasarkan wawancara dengan penulis, ia ingin membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat tanpa meninggalkan kebudayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurut Kang Edai, kemajuan ekonomi dan pelestarian budaya tidak perlu berjalan berlawanan. Keduanya justru dapat berkembang secara bersamaan apabila masyarakat mampu mengelola potensi desa dengan tepat.
Sebelum program Desa Sejahtera Astra masuk, Kemiren sebenarnya sudah memiliki modal sosial dan budaya yang kuat. Statusnya sebagai desa wisata adat membuat masyarakat terbiasa mengembangkan potensi tradisi sekaligus kegiatan ekonomi berbasis pariwisata.
Kang Edai mulai bergabung dalam program DSA pada 2024. Saat itu, ia telah menjalankan tugas sebagai Ketua Desa Wisata Osing. Program tersebut kemudian memperkuat berbagai kegiatan yang sudah berjalan melalui pendampingan, dukungan pendanaan, serta pengembangan program.
Menariknya, Kang Edai tidak melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang harus selalu dipertahankan tanpa perubahan. Menurutnya, budaya memiliki sifat dinamis karena terus berinteraksi dengan kondisi masyarakat.
Karena itu, masyarakat tidak harus mempertahankan seluruh kebiasaan lama dalam bentuk yang sama. Kemiren memilih unsur budaya yang dinilai penting untuk tetap dijaga. Salah satunya adalah keberadaan rumah adat Osing sebagai bagian dari identitas lokal.
Pendekatan tersebut membuat pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Masyarakat tetap menggunakan, mempelajari, mengenalkan, dan mengembangkan kebudayaan agar memiliki tempat dalam kehidupan masa kini.
Empat Bidang Menopang Pengembangan Desa
Pengembangan Kemiren melalui Desa Sejahtera Astra berfokus pada empat bidang utama, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Setiap bidang memiliki peran berbeda, tetapi semuanya diarahkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.
Pada bidang kewirausahaan, masyarakat mengembangkan pariwisata, paket perjalanan, kuliner, serta kegiatan berbasis budaya. Sementara itu, bidang pendidikan mencakup kegiatan pembelajaran sekaligus pengenalan kebudayaan kepada generasi muda.
Program kesehatan berjalan melalui Posyandu dan fasilitas pelayanan masyarakat. Adapun sektor lingkungan mencakup pengelolaan sampah serta pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik.
Dari empat bidang tersebut, kewirausahaan menjadi salah satu sektor yang berkembang cukup menonjol. Namun, Kang Edai menilai masih ada pekerjaan untuk menghubungkan seluruh bidang agar berjalan sebagai satu ekosistem.
Pariwisata dapat menjadi salah satu penggeraknya. Ketika kunjungan wisata meningkat, masyarakat memperoleh peluang ekonomi. Namun, kegiatan wisata juga membutuhkan lingkungan bersih, masyarakat sehat, serta generasi muda yang memahami budaya lokal.
Dengan demikian, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan saling berkaitan dalam mendukung keberlanjutan desa.
Mengenalkan Budaya Osing Sejak Usia Dini
Pendidikan menjadi bagian penting dalam mempertahankan identitas Kemiren. Melalui program DSA, PAUD Desa Kemiren mendapatkan dukungan berupa sarana pembelajaran, permainan edukatif, kegiatan belajar, serta pengenalan budaya lokal.
Langkah tersebut membantu anak-anak mengenal lingkungan budaya tempat mereka tumbuh sejak usia dini.
Pelestarian kebudayaan memang tidak cukup hanya mengandalkan kedatangan wisatawan. Keberlanjutannya sangat bergantung pada generasi penerus yang memahami sekaligus memiliki hubungan dengan tradisi masyarakatnya.
Menurut Kang Edai, salah satu perubahan yang terasa adalah tumbuhnya kebanggaan masyarakat terhadap budaya Osing. Perubahan tersebut memang tidak selalu mudah diterjemahkan dalam angka. Namun, semakin dikenalnya Kemiren sebagai desa wisata memberikan nilai baru terhadap kebudayaan lokal.
Pendidikan akhirnya memiliki fungsi yang lebih luas. Anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan umum, tetapi juga memiliki kesempatan memahami identitas desa yang kelak akan mereka warisi.

Muhammad Edi Saputro, atau yang lebih akrab dipanggil Kang Edai Ketua Desa Wisata Osing sekaligus salah satu penggerak Desa Sejahtera Astra (DSA)
Wisata Budaya Menggerakkan Ekonomi Masyarakat
Perubahan ekonomi terlihat melalui pengembangan Desa Wisata Adat Osing Kemiren. Program DSA ikut mendukung sarana wisata, pemberdayaan UMKM, peningkatan kapasitas kelompok sadar wisata atau Pokdarwis, pengembangan homestay, serta promosi budaya Osing.
Program tersebut telah menjangkau sekitar 300 warga. Saat ini, masyarakat mengelola sekitar 50 homestay dengan total 92 kamar. Selain itu, kurang lebih 40 pelaku usaha menjalankan bisnis di sektor kuliner, kerajinan, dan kopi.
Sekitar 40 anggota Pokdarwis juga terlibat dalam pengelolaan pariwisata sekaligus berbagai kegiatan pelestarian budaya.
Dampak ekonomi turut terlihat dari pendapatan anggota Pokdarwis. Rata-rata penghasilan mereka meningkat dari sekitar Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Dengan demikian, peningkatannya mencapai kurang lebih 33 persen.
Namun, manfaat pengembangan wisata tidak hanya tercermin melalui pendapatan. Kedatangan wisatawan menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak warga.
Ada masyarakat yang menyediakan homestay, menjual kuliner, membuat kerajinan, menjadi pemandu, hingga menyusun paket perjalanan. Kebudayaan akhirnya tidak sekadar hadir sebagai pertunjukan bagi pengunjung, tetapi ikut menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang mempertahankannya.
Anak Muda Mendapat Ruang untuk Berkembang
Keberlanjutan budaya Osing juga bergantung pada keterlibatan generasi muda. Kang Edai menyebut sekitar 20 orang bergabung dalam kelompok penggerak desa dan mayoritas berasal dari kalangan anak muda.
Mereka tidak harus memiliki minat yang sama. Sebagian memilih bergerak dalam sektor wisata dan kebudayaan. Sementara itu, lainnya mengembangkan kemampuan melalui olahraga, seni, serta berbagai bidang berbeda.
Menurut Kang Edai, generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk berkembang sesuai kemampuan masing-masing selama tetap memberikan kontribusi positif kepada desa.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga tradisi tidak berarti meminta generasi baru menjalani kehidupan dengan cara yang sama seperti pendahulunya.
Sebaliknya, anak muda perlu memahami akar budayanya sekaligus memiliki kebebasan menentukan bagaimana mereka akan membawa identitas tersebut menghadapi perkembangan zaman.
Membangun Tata Kelola untuk Masa Depan Kemiren
Perjalanan pembangunan Desa Kemiren masih terus berlangsung. Salah satu tantangan berikutnya adalah mengintegrasikan empat bidang DSA agar dapat berjalan secara berkelanjutan.
Kang Edai menilai setiap program perlu menyesuaikan potensi dan kondisi nyata masyarakat. Pendekatan tersebut penting agar kegiatan pembangunan tidak berhenti setelah program pendampingan selesai.
Karena itu, ketika berbicara mengenai warisan yang ingin ditinggalkan, Kang Edai tidak hanya memikirkan bangunan atau penghargaan. Ia ingin meninggalkan sistem tata kelola yang dapat diteruskan masyarakat.
Tata kelola memiliki peran penting karena sebuah program dapat berakhir ketika dukungan pendanaan selesai. Sebaliknya, sistem yang telah menjadi kebiasaan bersama berpeluang terus berjalan meskipun para penggerak awalnya sudah berganti.
Dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, Kang Edai berharap masyarakat Kemiren dapat menjalani kehidupan yang semakin sejahtera.
Harapan tersebut menggambarkan arah pembangunan desa yang mencoba mempertemukan kemajuan dengan identitas lokal. Kemiren tidak harus memilih salah satunya. Masyarakat dapat menerima perkembangan zaman tanpa meninggalkan seluruh warisan budaya yang membentuk jati diri mereka.
Proses tersebut berjalan melalui keterlibatan banyak pihak. Anak-anak belajar mengenali budaya sejak dini, warga mengembangkan homestay dan UMKM, Pokdarwis mengelola wisata, sementara kelompok masyarakat lainnya bergerak dalam kesehatan dan lingkungan.
Pada akhirnya, menjaga budaya Osing bukan berarti menghentikan perubahan. Tantangan sebenarnya adalah membuat tradisi tetap memiliki fungsi dan makna ketika kehidupan masyarakat terus berkembang. Dengan cara itulah Kemiren berupaya melangkah menuju masa depan tanpa kehilangan identitas yang membentuknya.