Padang Savana Long Tua – Berada di tengah alam terbuka tidak selalu identik dengan perjalanan yang terburu-buru demi mendapatkan foto terbaik. Di Padang Savana Long Tua, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, wisatawan justru di ajak menikmati ketenangan alam melalui pengalaman yang sederhana, yaitu duduk diam, menghirup udara segar, dan menunggu kemunculan satwa liar di habitat aslinya. Suasana hening yang di penuhi kabut pagi menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang ingin merasakan ketenangan jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Padang Savana Long Tua menawarkan pengalaman wisata berbasis alam yang mengutamakan kesabaran dan penghormatan terhadap lingkungan. Setiap langkah menuju kawasan ini menghadirkan sensasi petualangan sekaligus kesempatan untuk lebih dekat dengan ekosistem hutan hujan tropis Kalimantan yang masih terjaga.

Perjalanan Pagi Menuju Padang Savana Long Tua

Perjalanan menuju Padang Savana Long Tua di mulai sejak fajar menyingsing. Udara di Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, masih terasa sangat dingin ketika rombongan mulai bersiap. Kabut putih masih menggantung di atas kawasan hutan, sementara suara deras aliran Sungai Bahau menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan pagi.

Ekspedisi tersebut melibatkan petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Long Alango, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, bersama sejumlah jurnalis, organisasi lingkungan, tenaga kesehatan, tenaga pendidik, serta perwakilan pemerintah desa di Kecamatan Bahau Hulu. Salah satu tujuan utama perjalanan adalah mengamati aktivitas banteng Kalimantan (Bos javanicus lowii), satwa yang oleh masyarakat Dayak Kenyah di kenal dengan nama kelesiau.

Sebelum memasuki kawasan savana, seluruh peserta terlebih dahulu menyeberangi Sungai Bahau menggunakan perahu. Setelah tiba di seberang sungai, perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalur hutan yang masih alami.

Menembus Jalur Hutan yang Penuh Tantangan

Memasuki kawasan hutan hujan tropis menghadirkan tantangan tersendiri. Jalur pendakian di penuhi dedaunan basah akibat embun dan hujan yang turun pada malam sebelumnya. Tanah yang di lapisi humus juga menjadi licin sehingga setiap langkah harus dilakukan dengan hati-hati.

Vegetasi yang lebat menghadirkan aroma tanah basah yang khas. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang membuat perjalanan terasa semakin dekat dengan alam liar Kalimantan.

Salah seorang peserta perjalanan, Kiki, mengaku medan yang licin cukup menyulitkan karena menggunakan sandal gunung. Menurutnya, wisatawan sebaiknya mempersiapkan perlengkapan yang sesuai sebelum menjelajahi kawasan ini.

Penggunaan sepatu khusus dengan daya cengkeram kuat menjadi pilihan terbaik untuk menghadapi jalur yang curam dan licin. Masyarakat setempat bahkan mengenal jenis alas kaki yang cocok untuk medan tersebut sebagai sepatu belabak. Selain itu, pakaian berlengan panjang, celana panjang, serta kaus kaki tebal juga sangat di sarankan agar tubuh terlindungi selama perjalanan.

Pemandangan Padang Savana Long Tua di Kalimantan Utara dengan hamparan rumput hijau, kabut pagi, dan suasana alam yang asri.

Pos pemantau banteng kalimantan di Savana Long Tua, Kaltara.

Pacet Menjadi Bagian dari Petualangan

Selain medan yang cukup menantang, wisatawan juga perlu bersiap menghadapi keberadaan pacet atau lintah darat yang banyak di temukan di kawasan hutan lembap.

Satwa kecil tersebut biasanya bersembunyi di balik tumpukan dedaunan basah. Karena memiliki zat anestesi alami pada gigitannya, banyak orang tidak langsung menyadari ketika pacet menempel di tubuh. Keberadaannya baru di ketahui setelah muncul rasa gatal atau terlihat bekas darah pada kaus kaki maupun pakaian.

Meskipun terdengar mengganggu, pacet sebenarnya sudah menjadi bagian alami dari ekosistem hutan hujan tropis. Oleh karena itu, perlengkapan yang tepat menjadi faktor penting agar perjalanan tetap nyaman dan aman.

Persiapan sederhana seperti mengenakan pakaian tertutup dapat membantu mengurangi risiko pacet menempel di kulit. Dengan perlengkapan yang memadai, wisatawan dapat menikmati perjalanan tanpa terganggu oleh kondisi alam yang memang menjadi ciri khas kawasan tersebut.

Menikmati Keheningan Savana di Tengah Kabut

Perjalanan menuju Padang Savana Long Tua juga menguji kondisi fisik. Jalur pendakian memiliki kemiringan yang cukup tajam pada beberapa titik sehingga peserta harus mengatur ritme langkah agar tenaga tidak cepat habis.

Namun, rasa lelah segera terbayarkan ketika tiba di puncak. Sebuah pondok kayu sederhana dan papan bertuliskan “Padang Rumput Long Tua” menjadi penanda bahwa perjalanan telah mencapai tujuan.

Hamparan padang rumput hijau terbentang luas dengan latar kabut yang perlahan bergerak mengikuti hembusan angin pagi. Udara terasa sangat bersih dan sejuk, menciptakan suasana yang menenangkan sekaligus menyegarkan pikiran.

Di tempat inilah para pengunjung di ajak menikmati alam dengan cara yang berbeda. Tidak ada suara bising kendaraan ataupun keramaian wisata massal. Semua orang memilih duduk tenang sambil memperhatikan hamparan savana dan menunggu kemungkinan munculnya banteng Kalimantan dari balik kabut.

Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa menikmati alam tidak selalu membutuhkan aktivitas yang ramai. Justru melalui kesabaran, ketenangan, dan penghormatan terhadap kehidupan liar, wisatawan dapat merasakan makna perjalanan yang lebih mendalam. Padang Savana Long Tua menjadi bukti bahwa destinasi wisata alam di Kalimantan Utara tidak hanya menawarkan panorama indah, tetapi juga menghadirkan kesempatan untuk merasakan kedekatan dengan alam yang masih terjaga keasriannya.